Bismillaahirromannierrohiem.
Sang ayah menatap anaknya dengan lembut dan berkata, “Nak, kedengkian adalah perasaan tidak senang melihat orang lain mendapatkan kebahagiaan, keberhasilan, atau nikmat, bahkan terkadang ingin agar nikmat itu hilang darinya.”
Sang anak mengernyitkan dahi, lalu bertanya, “Mengapa manusia bisa merasa dengki, Ayah?”
Sang ayah tersenyum tipis dan menjelaskan, “Kedengkian lahir dari hati yang merasa kurang, dari perbandingan yang tidak perlu, dan dari kegagalan seseorang untuk bersyukur. Orang yang dengki melihat hidup seperti perlombaan, seakan kebahagiaan orang lain berarti penderitaan baginya. Padahal, rezeki itu luas, kebahagiaan tidak terbatas, dan Tuhan tidak pernah salah dalam membagi nikmat-Nya.”
Sang anak mengangguk pelan, lalu bertanya lagi, “Bagaimana cara menghilangkan kedengkian, Ayah?”
Sang ayah tersenyum dan berkata, “Pertama, dengan banyak bersyukur. Ketika kita menyadari betapa banyak nikmat yang kita miliki, kita tak akan punya waktu untuk iri pada orang lain. Kedua, dengan menyadari bahwa setiap orang punya ujian masing-masing. Kita hanya melihat keberhasilan orang lain, tetapi kita tidak melihat perjuangan dan air mata di baliknya. Ketiga, dengan mendoakan kebaikan bagi orang yang kita dengki. Ini sulit, tetapi justru itulah yang akan membersihkan hati kita.”
Ia mengakhiri, “Ramadhan ini mengajarkan kita untuk membersihkan hati, dan salah satu penyakit hati yang harus kita buang adalah kedengkian. Sebab hati yang bersih akan melahirkan kebahagiaan sejati.” (FR)