سْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Sang ayah tersenyum dan berkata, “Nak, bersaksi dalam dua kalimat syahadat bukan sekadar mengucapkan kata-kata, tetapi sebuah pernyataan keyakinan yang mendalam, sebuah janji hidup.”

Sang anak mengernyitkan dahi. “Janji hidup? Maksudnya bagaimana, Ayah?”

Sang ayah menjelaskan, “Ketika kita bersaksi ‘Asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah’, kita mengakui dengan sepenuh hati bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya. Ini bukan sekadar kata-kata di bibir, tetapi ikrar yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.”

Sang anak berpikir sejenak. “Tapi, Ayah, kenapa disebut ‘bersaksi’? Biasanya bersaksi itu melihat sesuatu dengan mata kepala sendiri.”

Sang ayah tersenyum dan berkata, “Bersaksi dalam Islam bukan hanya soal melihat dengan mata, tetapi memahami dengan hati dan akal. Kita bersaksi bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan bukan karena kita melihat-Nya secara langsung, tetapi karena kita merasakan kehadiran-Nya dalam kehidupan, dalam ciptaan-Nya, dalam keadilan dan kebijaksanaan-Nya.”

Sang anak mengangguk-angguk. “Jadi, bersaksi dalam syahadat itu bukan hanya percaya, tapi juga membuktikannya lewat perbuatan?”

Sang ayah mengangguk. “Tepat sekali. Syahadat bukan hanya pernyataan, tetapi juga komitmen. Jika kita mengaku hanya Allah yang kita sembah, berarti kita tidak boleh tunduk pada hawa nafsu, ketamakan dunia, atau kekuasaan yang menyesatkan. Jika kita bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah, maka kita harus mengikuti ajaran dan teladan hidupnya.”

Sang anak tersenyum. “Jadi, bersaksi dalam syahadat itu bukan hanya mengucapkan, tapi menjalani dan membuktikannya dalam hidup kita.”

Sang ayah tersenyum penuh kebanggaan. “Benar, nak. Syahadat adalah fondasi Islam, dan fondasi itu harus kokoh, bukan hanya di bibir, tapi juga dalam hati dan amal perbuatan kita.” (FR)