بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Seorang Kiai di suatu pesantren mempunyai seekor burung beo. Burung beo ini dilatih Kiai berzikir la ilaha illallah.

Burung Beo itu melantunkan zikir la ilaha illallah setiap hari. Suatu hari burung Beo ini – entah bagaimana – lepas dari kurungannya, dan mati diterkam kucing.

Kiai sempat menyaksikan bagaimana beo itu mati diterkam kucing. Burung beo itu mati dengan berteriak-teriak. Setelah kematian burung beo-nya itu Kiai nampak murung.

Beberapa santrinya menemui sang Kiai dan menghibur dengan menjanjikan akan mencarikan burung beo pengganti dan melatihnya berzikir.

Lalu Kiai menjelaskan bahwa ia sedih bukan oleh karena kematian burung beo itu. Ia hanya sedih dan merenung bagaimana akhir hayat dirinya sendiri.
Apakah menghadapi kematian dengan tenang dan terus berzikir, tidak seperti beo yang pandai berzikir tetapi menghadap kematian dengan berteriak-teriak ketakutan.

Di balik kisah sederhana seekor burung yang terbiasa melantunkan zikir, terkandung pelajaran ruhani yang agung dan relevan bagi siapa pun yang ingin memahami makna keikhlasan, hakikat amal, dan kesiapan menghadapi kematian.

Refleksi 1: Zikir Lidah Tidak Menjamin Zikir Hati
Burung beo adalah makhluk yang bisa meniru suara, tetapi tidak memahami makna dari apa yang ia ucapkan. Ia bisa mengucapkan la ilaha illallah tanpa mengetahui siapa Allah, tanpa rasa takut atau cinta kepada-Nya.

Sang Kiai menyadari bahwa berzikir dengan lisan saja tidak cukup, apalagi jika hati tidak ikut hadir. Betapa banyak manusia yang pandai berkata-kata indah tentang agama, tetapi hatinya lalai.

Ia khawatir—jangan-jangan dirinya juga hanya seperti beo itu: mengulang zikir tanpa kehadiran hati, tanpa makna sejati, dan tanpa pengaruh pada perilaku dan kesiapan menghadapi ajal.

Refleksi 2: Amal Lahiriah Belum Tentu Menyelamatkan
Zikir dan ibadah lahiriah tidak otomatis menjadi jaminan keselamatan jika tidak dibarengi dengan keikhlasan, penghayatan, dan persiapan ruhani yang sungguh-sungguh.

Burung beo itu tampak “sholeh”—dari luar tampak seperti ahli zikir, tetapi ketika maut datang, ia menjerit ketakutan.

Sang Kiai melihat, jika seekor makhluk yang tiap hari melantunkan kalimat tauhid bisa begitu takut menghadapi kematian, bagaimana dengan dirinya sendiri?

Ini menjadi peringatan bahwa amal ibadah harus sampai ke dalam hati, menjadi karakter dan kekuatan ruhani. Jika tidak, amal itu hanya akan menjadi rutinitas kosong.

Refleksi 3: Kematian Adalah Cermin Kejujuran Ruhani
Kematian seringkali mengungkap siapa kita yang sebenarnya. Di saat itulah kita tak bisa lagi berpura-pura. Tidak ada lagi peran, tidak ada lagi topeng, tidak ada lagi penonton. Hanya kita dan Allah. Maka, bagaimana kita menghadapi detik-detik kematian itulah cermin dari kehidupan kita sebenarnya.

Sang Kiai merenungi kematian burung itu sebagai peringatan pribadi. Ia tidak sedang berkabung atas hilangnya seekor burung, tetapi berkabung atas kemungkinan dirinya belum siap benar menghadapi sakaratul maut.

Refleksi 4: Zikir Sejati Adalah Kehidupan yang Mengingat Allah
Zikir sejati bukan hanya pada bibir, tetapi di hati, dalam pikiran, dalam perilaku, dan dalam seluruh gerak kehidupan. Sang Kiai mengajarkan bahwa zikir yang sebenarnya adalah ketika hati selalu mengingat Allah, ketika hidup menjadi ibadah, dan ketika menghadapi maut pun kita tetap tenang dalam keimanan dan berserah diri kepada-Nya.

Penutup
“Jangan-jangan aku hanya seperti beo itu,” begitu kira-kira renungan sang Kiai.

Betapa agungnya kejujuran dan ketakziman hati seorang kekasih Allah yang merendah, yang merasa takut jika amalnya hanya sekadar ritual tanpa ruh.

Semoga kita tidak hanya pandai berkata, tapi juga benar-benar hidup dalam makna zikir, dan mati dalam keadaan husnul khatimah, dengan hati yang tenang karena yakin bahwa Allah Maha Pengampun dan Maha Menerima taubat. (FR) 06-04-2025