Syekh Imran Nazar Hosein –sering ditulis Imran Hosein– adalah ulama asal Trinidad and Tobago yang dikenal luas karena tafsir eskatologis (akhir zaman), khususnya tentang Dajjal, Ya’juj–Ma’juj, sistem riba global, dan tatanan dunia modern.
Pemikirannya cukup khas dan sering berbeda dari pendekatan ulama arus utama.
Pendidikan
Syekh Imran Nazar Hosein, lahir di Trinida & Tobago (di kepulauan Karibia) pada tahun 1942, menempuh pendidikan di berbagai lembaga, antara lain: Aleemiyah Institute of Islamic Studies, Karachi, Pakistan — mempelajari ilmu Islam di bawah bimbingan ulama seperti Muhammad Fazlur Rahman Ansari. University of Karachi, Pakistan — studi pascasarjana di bidang Filsafat. University of the West Indies, Trinidad — studi lanjutan di bidang Hubungan Internasional. Graduate Institute of International Studies, Geneva, Swiss — studi lanjutan di bidang hubungan internasional/pembangunan. Ia juga sempat belajar singkat di Al-Azhar University, Kairo, Mesir.
Syekh Imran dikenal sebagai seorang cendekiawan Islam, penulis, pemikir eskatologi, dan penceramah internasional yang karyanya banyak membahas isu akhir zaman, politik global, ekonomi, dan tafsir Al-Qur’an modern.
Pemikiran Imran Hosein tentang Dajjal
Menurut Imran Hosein, Dajjal tidak dapat dipahami secara sempit sebagai sekadar individu yang akan muncul di akhir zaman, melainkan sebagai sebuah sistem peradaban yang bekerja secara halus dan menyeluruh dalam kehidupan manusia.
Ia memang mengakui bahwa Dajjal adalah satu sosok manusia sebagaimana disebutkan dalam hadis-hadis Nabi, tetapi pengaruh dan kekuatannya tidak berdiri sendiri. Dajjal menjalankan perannya melalui tatanan peradaban global yang membentuk cara berpikir, cara hidup, dan cara manusia memandang realitas.
Karena itu, Imran Hosein menolak pemahaman populer yang menggambarkan Dajjal hanya sebagai makhluk aneh bermata satu yang akan muncul secara tiba-tiba menjelang kiamat. Baginya, gambaran tersebut justru berisiko meninabobokan kesadaran umat, karena mengabaikan fakta bahwa “fitnah Dajjal” telah dan sedang bekerja jauh sebelum kemunculan fisiknya.
Dalam perspektif ini, Dajjal dipahami sebagai puncak dari proyek peradaban materialistik yang memisahkan manusia dari dimensi spiritual dan transendental. Peradaban ini menilai kebenaran semata-mata berdasarkan apa yang tampak, terukur, dan menguntungkan secara materi, seraya menyingkirkan nilai-nilai ketuhanan dari ruang publik dan kesadaran manusia.
Dajjal tidak memikat manusia melalui kekerasan atau pemaksaan, melainkan melalui kemakmuran semu, kecanggihan teknologi, dan ilusi kebebasan. Manusia dibuat merasa merdeka, berkuasa, dan aman, padahal secara perlahan kehilangan orientasi hidup, ketergantungan kepada Tuhan, dan kemampuan membedakan antara kebenaran hakiki dan tipu daya peradaban.
Dengan cara inilah, menurut Imran Hosein, fitnah Dajjal menjadi fitnah terbesar dalam sejarah manusia: bukan karena kekuatannya yang kasar, tetapi karena kemampuannya menipu kesadaran manusia secara elegan dan sistemik.
Makna Simbolik “Mata Satu”
“Mata satu” tidak dipahami secara biologis semata, melainkan simbol cara pandang dunia. Menurut Imran Hosein, “mata satu” = melihat realitas hanya dari dimensi materi. Kehilangan mata kedua = hilangnya pandangan spiritual dan metafisik.
Peradaban Dajjal adalah: rasional tetapi tidak beriman, cerdas tetapi tidak bijak, maju teknologi tetapi kosong makna. Ini selaras dengan dunia modern yang mengukur segalanya dengan angka, menyingkirkan Tuhan dari ruang publik.
Dajjal dan Sistem Riba Global
Salah satu kontribusi penting Imran Hosein adalah mengaitkan Dajjal dengan sistem keuangan internasional.
Menurutnya, riba adalah instrumen utama Dajjal. Sistem uang fiat, bank sentral, dan utang global adalah bagian dari jebakan Dajjal
Ia sering merujuk dominasi dolar, IMF, World Bank, perbudakan negara-negara miskin melalui utang. Dajjal memberi roti dan keamanan, tetapi mengambil kemerdekaan dan iman.
Hubungan Dajjal dengan Zionisme dan Yerusalem
Imran Hosein menafsirkan hadis dan ayat Al-Qur’an bahwa: kekuasaan akhir Dajjal berkaitan dengan Yerusalem, berdirinya Israel modern adalah tahapan eskatologis, bukan sekadar politik biasa. Namun ia menekankan ini bukan kebencian rasial, melainkan analisis peran historis–teologis dalam akhir zaman.
Yerusalem (Baitul Maqdis): akan menjadi pusat konflik akhir zaman, tempat benturan antara peradaban Dajjal dan tauhid.
Teknologi, Media, dan Ilusi Realitas
Imran Hosein melihat: televisi, internet, AI, virtual reality sebagai alat potensial Dajjal, bukan Dajjal itu sendiri.
Masalahnya bukan teknologi, tetapi bagaimana teknologi menciptakan realitas semu, menghipnotis kesadaran manusia, menggantikan kebenaran dengan narasi.
Manusia, merasa tahu segalanya, padahal kehilangan hikmah.
Fitnah Dajjal = Ujian Kesadaran
Bagi Imran Hosein, fitnah Dajjal adalah ujian kesadaran, bukan sekadar ujian fisik. Yang gagal bukan yang miskin, tetapi yang cerdas tapi sombong, religius tapi dangkal, berilmu tapi tak mengenal Tuhan. Karena itu Nabi bersabda : “Tidak ada fitnah yang lebih besar daripada fitnah Dajjal.”
Jalan Keselamatan dari Dajjal
Imran Hosein menekankan solusi klasik yang sering dilupakan: Tauhid yang hidup, bukan formalitas. Membaca dan memahami Surah Al-Kahfi. Menolak riba, sebisanya. Hidup sederhana.
Ilmu akhir zaman, bukan sekadar fiqh ritual. Kesadaran spiritual, bukan sekadar aktivisme politik
Ciri Khas Pemikiran Imran Hosein
Yang membedakan Imran Hosein dari banyak ulama ialah pendekatan simbolik–historis menggabungkan tafsir Qur’an, hadis, geopolitik, dan ekonomi, kritik tajam terhadap modernitas Barat. Karena itu ia dicintai sebagian umat, sekaligus dikritik karena dianggap terlalu spekulatif.
Penutup Reflektif
Dalam bahasa sederhana, bagi Imran Hosein Dajjal bukan datang dari luar manusia, tetapi bekerja melalui keserakahan, kesombongan, dan kehilangan makna hidup manusia modern. (FR)
