Paket kompensasi Elon Musk yang diprediksi mencapai USD 1 triliun memicu perdebatan panas mengenai kenaikan drastis gaji CEO di tengah stagnasi upah pekerja. Fenomena dinilai cerminan tren ekonomi global yang semakin timpang.

Menurut data Forbes, Musk saat ini memimpin daftar orang terkaya di planet ini dengan kekayaan bersih mencapai USD 788 miliar dan dijanjikan kompensasi USD 1 triliun jika dia mencapai target oleh Tesla.

Meskipun Musk mungkin kasus ekstrim, keuntungan yang didapatnya dari saham menyoroti lonjakan kompensasi dan kekayaan para CEO dalam beberapa dekade terakhir.

Tren ini didorong pasar saham yang terus naik dan adopsi paket gaji berbasis saham yang semakin luas.

Selama 50 tahun terakhir, kompensasi eksekutif puncak (CEO) telah melonjak 1.094%, menurut Economic Policy Institute. Angka ini sangat kontras dengan kenaikan kompensasi pekerja biasa yang hanya 26%.

Menurut Equilar, firma analitik korporas, median total kompensasi CEO perusahaan S&P 500 mencapai USD 17,1 juta pada tahun 2024, naik hampir 10% dari tahun 2023.

Kini, para CEO berpenghasilan 192 kali lipat lebih banyak daripada karyawan rata-rata, naik dari rasio 186 banding 1 pada tahun 2023.

Penyebab percepatan gaji CEO ini adalah pergeseran jenis penghargaan saham yang digunakan untuk memberi insentif dan imbalan kepada para pemimpin perusahaan.

Kompensasi CEO biasanya mencakup empat kategori yaitu gaji pokok, insentif jangka panjang, insentif jangka pendek, dan tunjangan.

Insentif jangka panjang dan jangka pendek sebagian besar berupa penghargaan saham dan merupakan porsi terbesar dari kompensasi CEO.

Penghargaan saham menyumbang 72% dari paket gaji CEO pada tahun 2024, dengan nilai median meningkat 15% pada tahun tersebut.

Sebagai contoh, paket gaji triliunan dolar milik Musk sama sekali tidak mencakup gaji pokok. Potensi nilai USD 1 triliun tersebut sepenuhnya berasal dari penghargaan saham yang dipatok pada berbagai target.

Agar Musk mendapatkan bayaran penuh, Tesla harus mencapai tonggak pencapaian, termasuk kapitalisasi pasar tertentu dan pencapaian operasional.

Ia masih bisa mendapatkan miliaran dolar dalam bentuk saham meskipun Tesla tidak memenuhi semua target tersebut.

“Gagasan bahwa ada orang entah bagaimana hampir sendirian bertanggung jawab atas nilai perusahaan dan orang lain hanyalah kacung kecil yang tidak berkontribusi banyak, semua orang bisa melihat bahwa itu tidak benar,” kata Sarah Anderson dari Institute for Policy Studies.

Menurut studi MSCI tahun 2021 tersebut, CEO dengan kinerja rata-rata hanya membawa pulang bayaran yang terealisasi 4% lebih sedikit dibandingkan CEO dengan kinerja terbaik.

Padahal kadang, CEO dengan gaji terendah justru memberikan imbal hasil terkuat bagi pemegang saham.

Sumber : detik. Foto: Elon Musk. REUTERS/Hamad I Mohammed