Kita sering mendengar nasihat bahwa hidup di dunia ini hanya singgah sejenak, bahwa dunia bukan kampung halaman sejati kita.

Kalimat itu begitu akrab di telinga, diulang dalam pengajian, khutbah, dan petuah para tuan guru. Namun justru karena terlalu sering terdengar, ia perlahan kehilangan daya getarnya. Ia hadir sebagai suara, tetapi tidak selalu menjelma menjadi kesadaran.

Padahal kebenaran nasihat itu tidak berubah sedikit pun. Dunia memang tempat menanam, bukan tempat menuai. Ia ibarat jalan panjang yang kita lintasi, bukan rumah tempat kita menetap.

Tetapi kesibukan hidup—mencari nafkah, mengurus keluarga, mengejar pengakuan, menanggung masalah—sering membuat kita merasa seolah-olah dunia ini adalah tujuan akhir.

Hati pun lelah, bukan karena beratnya hidup, melainkan karena kita berharap terlalu banyak pada sesuatu yang memang tidak kekal.

Kesadaran akan kampung akhirat bukanlah ajakan untuk membenci dunia, melainkan undangan untuk menempatkan dunia secara proporsional. Dunia dijalani dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak dipeluk dengan rakus.

Kita bekerja, berusaha, dan berjuang, namun hati tetap tahu ke mana ia akan pulang. Saat kesadaran ini hidup, keberhasilan tidak membuat kita sombong, dan kegagalan tidak menghancurkan jiwa.

Segala sesuatu diterima sebagai bagian dari perjalanan, bukan sebagai tujuan akhir.

Bagaimana menjaga kesadaran ini agar tidak padam? Dengan sering menghadirkan keheningan di tengah hiruk-pikuk hidup. Dengan mengingat kematian bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai penunjuk arah. Dengan bertanya kepada diri sendiri: jika hari ini adalah hari terakhirku, apakah yang kuperjuangkan masih layak kupertahankan? Pertanyaan-pertanyaan jujur semacam ini menata ulang orientasi hati.

Kesadaran akan akhirat menjadikan hidup lebih jernih dan bermakna. Kita menjadi lebih ringan memaafkan, lebih sabar menanggung ujian, dan lebih ikhlas dalam berbuat baik. Sebab kita tahu, tidak semua hal harus selesai di dunia. Ada pengadilan yang lebih adil, ada balasan yang lebih sempurna, dan ada kampung halaman yang tidak mengenal kehilangan.

Mengingat akhirat bukan berarti melarikan diri dari kehidupan, tetapi justru menemukan makna terdalam dari kehidupan itu sendiri.

Dunia tetap kita jalani, tetapi hati tidak lagi tersesat. Ia melangkah dengan sadar, bahwa di balik sementara ini, ada keabadian yang menanti. (FR)