Kejatuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) selama beberapa hari terakhir memicu kepanikan pasar.
Hampir seluruh saham mencatatkan penurunan tajam, valuasi menyusut, dan volatilitas melonjak. Namun di balik tekanan tersebut, muncul peluang lonjakan dividend yield.
BRI Danareksa Sekuritas dalam komentar pasar, Kamis (29/1/2026), menyebutkan bahwa penurunan harga saham secara otomatis mendorong dividend yield naik, terutama pada emiten-emiten dengan kinerja laba yang masih solid.
Kondisi ini menciptakan apa yang oleh pelaku pasar disebut sebagai dividend yield play, strategi berburu saham berdividen tinggi di tengah pasar sedang panik.
Berdasarkan dividend yield play screen per 29 Januari 2026, BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan, sejumlah saham big caps dan defensif kini menawarkan yield di kisaran 8–10%. Level tersebut jarang terlihat saat pasar normal.
PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) dan ACES di sektor konsumsi muncul sebagai opsi defensif dengan dividend yield di atas 8%, memperkuat daya tarik saham consumer staples di tengah ketidakpastian pasar.
Bagi investor yang berorientasi cashflow dan strategi defensif, kondisi ini kerap disebut sebagai sweet spot.
“Ketika harga saham terdiskon akibat sentimen jangka pendek, dividend yield terlihat naik, meski secara fundamental perusahaan belum mengalami penurunan laba yang signifikan,” tulis BRI Danareksa Sekuritas.
PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) mencatat dividend yield tertinggi sebesar 10,30%, dengan EPS trailing twelve months (TTM) mencapai Rp 3.330.
Menyusul di bawahnya, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dengan yield 10,20% ditopang EPS TTM 551, mencerminkan daya tahan laba sektor perbankan besar.
Di sektor energi dan komoditas, PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) masuk dalam daftar dividend yield mendekati dua digit, sementara laba masih relatif terjaga.
Adapun emiten perbankan lain, seperti BBRI, BNGA, dan BBNI tetap menarik bagi investor defensif yang mengincar arus kas dividen dengan risiko lebih terkendali.
Namun demikian, BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan, dividend yield tinggi bukan satu-satunya pertimbangan bagi pelaku pasar. Konsistensi laba, rasio payout dividen, serta keberlanjutan arus kas tetap menjadi kunci, terutama jika volatilitas pasar berlanjut.
“Yang jelas saat pasar sedang panik, peluang sering kali justru muncul bagi investor yang fokus pada fundamental dan arus kas jangka panjang,” tulisnya.
Sumber : Investrotrust.id. Foto : Grafis list sahan dengan dividend yield menarik.
