Pertanyaan klasik tentang keberadaan Tuhan kembali menjadi pembahasan menarik dalam sebuah podcast yang menghadirkan Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PWM DKI Jakarta, Nur Fajri Romadhon, pada Jumat (20/2/2026).

Dalam dialog tersebut, ia menjelaskan secara filosofis sekaligus teologis mengenai pertanyaan yang kerap dianggap sensitif: siapa yang menciptakan Tuhan?

Nur Fajri menjelaskan bahwa pertanyaan tersebut bukanlah hal baru. Dalam hadis Nabi Muhammad Saw, disebutkan bahwa setan dapat membisikkan pertanyaan berantai seperti: siapa yang menciptakan sesuatu, lalu siapa yang menciptakan penciptanya, hingga akhirnya muncul pertanyaan tentang siapa yang menciptakan Allah.

Menurutnya, pola berpikir seperti itu jika diteruskan tanpa batas akan berujung pada kesalahan logika yang dikenal dalam filsafat sebagai infinite regress atau dalam istilah ulama disebut tasalsul, yakni rangkaian sebab yang tidak memiliki ujung.

“Jika setiap pencipta membutuhkan pencipta lain tanpa akhir, maka pada akhirnya sesuatu tidak akan pernah ada,” jelasnya, dikutip Muhammadiyah.or.id, Senin (23/2/2026).

Ia kemudian memberikan analogi sederhana: seseorang dijanjikan hadiah ponsel, tetapi pemberi hadiah harus menunggu orang lain terlebih dahulu, dan seterusnya tanpa akhir. Dalam kondisi demikian, hadiah tersebut tidak akan pernah sampai kepada penerima. Fakta bahwa manusia dan alam semesta ada menunjukkan bahwa rantai sebab itu pasti memiliki titik akhir.

“Titik akhir itu adalah yang pertama, yang tidak membutuhkan pencipta. Dalam akidah Islam, itulah Allah sebagai al-Awwal,” ujarnya.

Nur Fajri menekankan bahwa kesalahpahaman utama muncul dari asumsi bahwa semua yang ada pasti diciptakan. Menurutnya, argumen teologis Islam tidak menyatakan demikian.

“Argumen yang benar adalah: semua yang bermula pasti ada yang memulai. Pertanyaannya, apakah Tuhan pernah tidak ada? Jawabannya tidak,” katanya.

Dengan demikian, Tuhan dipahami sebagai wujud yang selalu ada (necessary being), bukan sesuatu yang muncul setelah sebelumnya tidak ada. Sebaliknya, alam semesta termasuk kategori sesuatu yang bermula karena mengalami perubahan dan terikat waktu.

Bertanya Bukan Tanda Lemah Iman
Menariknya, ia juga menegaskan bahwa munculnya pertanyaan semacam ini bukan tanda lemahnya iman. Dalam hadis riwayat Muslim, para sahabat pernah mengaku memiliki pertanyaan yang mereka takutkan untuk diungkapkan, dan Nabi justru menyebutnya sebagai tanda keimanan.

Karena itu, rasa ingin tahu dinilai sebagai proses intelektual yang sehat selama diarahkan pada pencarian kebenaran, bukan sekadar keraguan tanpa dasar.

“Kalau seseorang memiliki pertanyaan seperti itu, tidak boleh langsung divonis imannya lemah,” tegasnya.

Ia juga mengutip Surah At-Tur ayat 35–36 yang mempertanyakan secara rasional: apakah manusia tercipta tanpa pencipta atau menciptakan dirinya sendiri. Menurutnya, ayat tersebut justru mendorong manusia menggunakan logika.

Secara rasional, sesuatu tidak mungkin menciptakan dirinya sendiri karena untuk mencipta, ia harus sudah ada terlebih dahulu.

Dalam diskusi tersebut, Nur Fajri turut menyinggung pandangan ilmiah modern. Ia mengkritisi gagasan bahwa alam semesta muncul sendiri melalui hukum gravitasi, sebagaimana pernah dikemukakan fisikawan Stephen Hawking, karena hukum gravitasi sendiri merupakan bagian dari alam semesta yang belum ada pada tahap awal.

Sebaliknya, ia mengutip refleksi kosmolog Carl Sagan yang menyatakan bahwa perdebatan antara kaum beriman dan ateis sebenarnya berkisar pada satu hal: apa yang tidak memiliki permulaan — Tuhan atau alam semesta.

Menurut Nur Fajri, alam semesta menunjukkan tanda-tanda memiliki permulaan, sebagaimana dijelaskan teori Big Bang dan hukum fisika modern yang menunjukkan perubahan serta kecenderungan menuju entropi atau kehancuran.

Karena itu, ia menilai lebih rasional menempatkan sifat “tidak bermula” pada Tuhan, bukan pada alam semesta.

“Alam semesta berubah, fana, dan terikat waktu. Sementara Allah tidak bergantung pada waktu dan tidak mengalami perubahan,” ujarnya.

Ia juga mengutip hadis Nabi yang menyatakan bahwa Allah telah ada ketika belum ada apa pun selain-Nya, sebagai landasan teologis konsep keabadian Tuhan dalam Islam.

Diskusi tersebut menegaskan bahwa pertanyaan filosofis tentang Tuhan bukanlah ancaman bagi iman, melainkan pintu dialog antara rasio dan wahyu.

Melalui pendekatan logika sederhana, dalil Al-Qur’an, serta refleksi ilmiah modern, Nur Fajri berupaya menunjukkan bahwa keimanan dalam Islam tidak bertentangan dengan nalar.