Po An Kiong, jam 20.10 Wita. Aroma dan asap dupa meliputi segenap penjuru bangunan kelenteng di lingkungan Pasar Niaga, Banjarmasin.
Bau harum dupa dan kepulan asap serta cahaya api lilin membuat suasana malam yang dingin terasa hangat. Hujan di sore hari tak menyurutkan semangat warga mengunjungi kelenteng berusia 101 tahun itu.
Aming salah satunya. Ia datang melaksanakan sembahyang membakar dupa (sao siang) di Kelenteng Po An Kiong (Karta Raharja), Jalan Niaga, Banjarmasin, Senin (2/3/2026) malam.
Dengan penuh hikmat, pengusaha mainan anak itu, menggoyang-goyang batangan hio (dupa) ke beberapa arah. Pertama, iya melakukan sembahyang Tuhan, kemudian melakukan penghormatan kepada dewa-dewi dan leluhur.
Ritual yang dilakukan Aming dan warga keturunan Tionghoa lainnya itu dalam rangka peribadatan malam Cap Go Meh.
“Cap Go Meh adalah hari ke-15 Tahun Baru Imlek. Pada malam Cap Go Meh kita berdoa minta yang baik-baik: memohon rezeki, kesehatan, keselamatan, kesejahteran,” ujar A Chi, Pengurus Bidang Kerohanian Kelenteng Po An Kiong. Puncak acara sembahyang dijadwalkan jam 23.00 Wita.
Warga yang datang, termasuk Aming, mengenakan baju merah. “Warna merah itu (melambangkan) kebahagian,” ujar Lim Ho Tjiang, salah satu umat kelenteng.

Ada sajian khusus pada malam pertama perayaan Cap Go Meh. Pengurus menyiapkan hidangan mie panjang umur. Besoknya, Selasa (3/3/2026) tepat pada malam ke-15 bulan purnama, disiapkan menu Nasi Kuning dan Lontong Cap Go Meh.
“Kita siapkan sebanyak 500-600 porsi,” ujar Leo, Pembina Kelenteng Po An Kiong. YCM
