Bismillaahrrohmannierrohiem.
Sang ayah tersenyum mendengar pertanyaan anaknya. Ia menatap lembut lalu berkata, “Nak, fenomena ini menunjukkan bahwa bagi sebagian orang, ibadah masih bersifat musiman. Ramadhan menjadi momentum religius yang kuat, tetapi setelah itu, semangatnya memudar. Ini adalah cerminan keberagamaan yang lebih bersandar pada ritual daripada kesadaran spiritual yang mendalam.”

Sang anak mengernyitkan dahi, “Jadi, ayah, mereka beribadah hanya karena kebiasaan di bulan Ramadhan, bukan karena kesadaran sejati?”

Sang ayah menghela napas, “Sebagian besar mungkin begitu, nak. Banyak orang menganggap ibadah di bulan Ramadhan sebagai kewajiban kolektif, sebuah tradisi yang dijalankan bersama-sama. Tapi setelah Ramadhan pergi, tantangan sesungguhnya muncul: apakah kita bisa mempertahankan hubungan dengan Tuhan secara konsisten?”

Sang anak berpikir sejenak, “Lalu bagaimana seharusnya, Ayah?”

Sang ayah tersenyum, “Seharusnya, Ramadhan menjadi awal, bukan sekadar fase. Seperti seseorang yang berlatih keras selama sebulan untuk membentuk kebiasaan baik. Jika benar-benar memahami maknanya, maka setelah Ramadhan, Al-Qur’an tetap dibaca, ibadah tetap dikerjakan, dan semangat kebaikan tetap menyala.”

Sang anak mengangguk perlahan, “Jadi, Ramadhan itu seperti sekolah, ya? Kita belajar mendekat kepada Tuhan, agar setelahnya kita tetap berjalan di jalan-Nya?”

Sang ayah tersenyum bangga, “Tepat sekali, nak. Ramadhan adalah madrasah bagi jiwa. Jangan biarkan pelajaran yang kita dapatkan hilang begitu saja setelah bulan ini berlalu.” (FR)