Kalau kamu penggemar ramen, mungkin kamu langsung sebal baca judul artikel ini. Bisa dimaklumi. Tapi tenang dulu, jangan banting mangkuk ramenmu, karena studi terbaru dari Jepang menemukan kaitan antara mi favoritmu ini dengan diabetes dan hipertensi.

Jujur saja, setiap kali aku menikmati seporsi ramen dan melihat lemaknya menetes masuk ke bulir-bulir minyak di mangkuk, ada suara kecil yang bertanya di kepalaku: Ini bakal bikin jantung mampet atau tidak, ya?

Biasanya pertanyaan itu langsung kutenggelamkan pakai sendokan kuah kaldu gurih hasil jam-jaman direbus dan diolah. Ramen ini tidak pakai MSG atau garam kan, ya? Iya kan, ya? Begitu kira-kira kegalauanku.

Studi yang mengaitkan ramen dengan dibetes dan hipertensi ini dilakukan bukan cuma di Jepang, tapi khusus di Yamagata, daerah yang bisa dibilang ibu kota ramen negara itu. Yamagata merupakan daerah yang kerap menelurkan berbagai kreasi ramen dengan kuah mirip pho yang harum dan dibumbui paprika serta basil.

Dalam survei oleh beberapa universitas di wilayah timur laut Yamagata, lebih dari 6.700 peserta pecinta ramen berusia 40 tahun ke atas dipantau selama empat setengah tahun. Frekuensi makan ramen mereka dibagi menjadi empat kategori: Kurang dari sekali sebulan, sekali hingga tiga kali sebulan, satu sampai dua kali seminggu, serta lebih dari tiga kali seminggu.

Kalau kamu penasaran seberapa besar cinta para peserta ini pada ramen, sekitar 47 persen makan ramen satu sampai tiga kali sebulan, disusul 27 persen yang memesannya satu atau dua kali seminggu. Faktanya, “sebagian besar populasi Jepang mengonsumsi mi setiap hari,” kata para peneliti.

Risiko Kematian
Pecinta ramen yang makan secara sering (tidak disebut seberapa sering) meningkatkan risiko kematian mereka menjadi sekitar 1,5 kali lipat dibandingkan mereka yang makan ramen sekali atau dua kali seminggu.

Risiko paling rendah tentu saja dimiliki kelompok terakhir. Intinya, semakin sering mereka makan ramen, semakin tinggi risiko kematiannya.

Mereka yang makan ramen kurang dari sekali sebulan juga menunjukkan sedikit peningkatan risiko kematian.

Para peneliti menyebut keterkaitan itu mungkin disebabkan oleh orang-orang yang sudah punya masalah kesehatan sebelumnya (seperti hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung) yang mengikuti anjuran dokter dan sudah mengurangi makan ramen.

Frekuensi makan menjadi faktor signifikan terutama pada peserta laki-laki usia muda yang, selain sering makan ramen, juga cenderung memesan porsi besar dan dengan itu mengonsumsi lebih banyak natrium.

“Telah dilaporkan bahwa persentase tinggi asupan natrium pada laki-laki muda berasal dari mi,” tulis para peneliti.

Pasti sampai di sini kamu sudah dapat menebak apa yang ditemukan para peneliti. Ya, asupan natrium tinggi dalam semangkuk ramen menyebabkan kelebihan garam dalam tubuh, yang kemudian meningkatkan risiko kanker lambung.

Pencinta ramen di Jepang juga cenderung memadukan ramen dengan alkohol, menjadikan kombinasi asin dan beralkohol itu berpotensi mematikan.

Peserta yang makan ramen tiga kali atau lebih dalam seminggu – dan menenggak lebih dari setengah kuah yang dipadukan dengan alkohol – menunjukkan risiko kematian tinggi, kata para peneliti.

Isi Mangkok Ramenmu
Mari ambil contoh semangkuk tonkotsu ramen: Mie kuning, dua potong char siew, dua potong fish cake, setengah telur onsen, dan sayuran seperti bayam, rebung, jamur kuping atau tauge.

Semua itu bisa menyumbang 900 hingga 1.200 kalori, tergantung seberapa kaya kuahnya, kata Reutens.

Semangkuk ramen juga mengandung 80g sampai 90g karbohidrat, 40g sampai 45g protein, 50g sampai 60g lemak, dan jumlah kalium serta zinc yang sangat kecil.

“Ramen tradisional sarat kalori dan lemak serta minim serat, vitamin, dan mineral,” katanya. “Lebih parah lagi kalau kamu minum sambil makan ramen. “Satu kali makan mengandung terlalu banyak kalori.”

“Tonkotsu ramen bisa mengandung 2.000mg hingga 3.000mg natrium. Mengingat batas harian natrium kita adalah 2.000mg, lebih baik jangan habiskan kuah ramenmu, tinggalkan setengahnya,” kata Reutens.

Sebelum kamu bilang, kamu cuma makan ramen “sesekali”, coba hitung berapa banyak “sesekali” yang sudah kamu lakukan. “Semakin tua usia, semakin melemah fungsi organ,” kata Jaclyn Reutens dari Aptima Nutrition & Sports Consultants Singapura.

“Kekebalan tubuh menurun dan kamu bisa saja sudah punya penyakit gaya hidup seperti hipertensi, penyakit jantung, stroke, diabetes atau kanker.”

“Risiko meninggal akibat penyakit-penyakit tersebut meningkat sejak kamu terus-menerus melakukan kebiasaan makan yang tidak sehat. Kita makan setiap hari. Karena itu, kualitas pola makan punya pengaruh besar terhadap kondisi kesehatanmu,” tuturnya.

Studi Lebih Lanjut
Meskipun temuan ini penting, penelitian tersebut bersifat observasional, kata ahli diet senior Mount Elizabeth Hospital Singapura, Looi Bee Hong.

“Lebih banyak penelitian dibutuhkan untuk memastikan apakah ramen itu sendiri yang menjadi penyebab, atau faktor gaya hidup lain seperti pola makan keseluruhan, konsumsi alkohol, merokok, atau ukuran porsi yang berperan. Penelitian lebih lanjut akan membantu memperjelas dampak sebenarnya.”

Jika ingin tetap menikmati ramen, batasi hanya sekali atau dua kali sebulan, saran Reutens. Looi merekomendasikan untuk mengimbangi semangkuk ramen dengan pilihan makanan rendah natrium dan kaya nutrisi selama seminggu. (Khoo Bee Khim)

Sumber : CNA Indonesia.