Di masanya, Bentoel dikenal sebagai salah satu merek rokok kretek berkualitas yang berbasis di Malang, Jawa Timur.
Sayang, perusahaan yang kini menjadi bagian dari British American Tobacco (BAT) ini resmi hengkang dari bursa efek Indonesia karena mengalami masalah keuangan dan kendala dalam hal regulasi bea cukai.
Meski sudah tidak terdaftar di BEI, Bentoel masih beroperasi dan memiliki 1.400 karyawan di seluruh Indonesia.
Lantas siapakah sosok pertama yang mendirikan perusahaan ini? Mari simak sosok selengkapnya berikut ini:
Perjalanan Ong Hok Liong Mendirikan Rokok Bentoel
Lahir di Karang Pacar, Bojonegoro, Jawa Timur, pada 12 Agustus 1983, Ong Hok Liong adalah anak tertua dari tujuh bersaudara dari pasangan Ong Hing Tjien dan Liem Pian Nio.
Tumbuh dan besar di keluarga pedagang tembakau, membuat Ong Hok Liong sudah mengenal tentang dunia tembakau sejak kecil.
Di usianya yang ke-17 tahun, ia menikah dengan Liem Kiem Kwie Nio, putri sulung dari keluarga pengusaha Liem Tek Bie. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai seorang putri yang diberi nama Mariani.
Mengetahui sang anak telah memiliki momongan, ayahnya menyerahkan bisnis tembakaunya untuk dikelola oleh anaknya.
Dengan penuh semangat, Ong Hok Liong bekerja keras memasarkan tembakau hingga palawija di daerah Malang.
Ketekunan itu membuahkan hasil. Satu dekade kemudian, Ong Hok Liong yang merasa sudah cukup mapan, memboyong keluarganya untuk tinggal bersamanya di Malang pada tahun 1921.
Untuk membuat istri dan anak bisa hidup dan tinggal dengan nyaman, Ong Hok Liong menyewa sebuah rumah kecil di Jl. Pecinan Kecil.
Di rumah yang hangat itulah, kebahagiaan mereka lengkap dengan lahirnya anak kedua pada tahun 1928.
Dua tahun berselang, Ong Hok Liong bersama rekannya, Tjoa Sioe Bian membuat keputusan besar. Mereka menjalin kerja sama untuk mendirikan pabrik rokok di Malang.
Awalnya, perusahaan itu bernama Stroojes-Fabriek Ong Hok Liong, yang kemudian berganti menjadi Hien An Kongsie.
Melalui pabrik ini, mereka meluncurkan merek rokok dengan nama-nama uni, seperti tjap Burung, tjap Klabang, hingga Djeroek Manis.
Berkat penggunaan nama tersebut, merek rokok itu mudah dikenali dan mulai populer di Malang.
Seiring berjalannya waktu, perusahaan itu mulai melakukan transformasi besar di tahun 1950-an.
Setelah mengganti nama menjadi NV Pertjetakan Liem An, perusahaan ini akhirnya memutuskan identitasnya sebagai PT Perusahaan Rokok Tjap Bentoel pada tahun 1954.
Keputusan menggunakan nama “Bentoel” ternyata membawa keberuntungan. Bisnisnya berkembang sangat pesat, sampai bisa memiliki 3.000 karyawan di tahun 1960.
Perjalanan Ong Hok Liong membesarkan pabrik rokoknya harus berhenti di tahun 1967. Setelah ia meninggal dunia, anaknya, Budhiwijaya Kusumanegara, menggantikan posisi sang ayah sebagai Presiden Direktur Bentoel.
Sayang pabrik rokok miliknya mengalami kesulitan finansial di tahun 1980.
PT Perusahaan Rokok Tjap Bentoel yang tidak mampu membayar pinjaman senilai US$170 juta dan kreditor asing sebesar US$350 juta, harus rela melepaskan 70 persen saham keluarga.
Sosok pertama yang tertarik membelinya kala itu adalah Hutomo Mandala Putra. Tetapi karena berbagai alasan, pembelian itu gagal dilaksanakan.
Tidak lama setelahnya, saham itu akhirnya dibeli oleh Peter Sondakh dan Rajawali Wira Bhakti Utama.
Lalu di tahun 1997, aset Bentoel diserahkan dan kepada perusahaan baru bernama PT Bentoel Prima, dan kembali berganti nama menjadi PT Bentoel Internasional Investama Tbk (RMBA) di tahun 2000.
Perusahaan itu sempat dipegang oleh British American Tobacco, dengan kepemilikan saham sebesar 92,48 persen.
Tidak lama setelahnya, Bentoel melepas status perusahaan terbuka dan menjadi perusahaan tertutup (Go Private).
Namun pada tanggal 12 Oktober 2023, RMBA mengajukan permohonan delisting dari pasar modal Indonesia.
Permohonan itu kemudian disetujui dan RMBA resmi hengkang dari pasar modal Indonesia pada tanggal 9 Januari 2024.
Makna Nama Bentoel
Ada kisah unik dibalik nama “Bentoel” yang dipilih oleh Ong Hok Liong. Kisah ini bermula dari kebiasaan Ong Hok Liong yang suka berziarah.
Di tahun 1954, Ong Hong Liong sedang berziarah ke makam kerabat Mbah Djugo di sekitar Gunung Kawi.
Selama berziarah Ong Hok Lion sempat tertidur di dekat makam. Selama tertidur, ia mendapatkan mimpi tengah melihat ubi talas.
Setelah terbangun, ia menceritakan mimpi tersebut kepada juru kunci makam.
Kemudian juru makam menjelaskan bahwa mimpi tersebut bisa jadi sebagai pertanda dari Mbah Djugo agar Ong Hok Liong mengubah nama pabriknya.
Kondisi penjualan merek rokok miliknya kala itu memang kurang memuaskan.
Ong Hok Liong yang mempercayai makna mimpi tersebut, langsung mengganti nama merek rokoknya.
Dari semua nama yang ada, ia memilih “bentul” yang merupakan nama sebutan Jawa untuk ubi talas.
Namun karena saat itu belum ada ejaan Yang Disempurnakan, maka penulisan mereknya menjadi “Bentoel”.
Sumber : Inilah. Ong Hok Liong (Foto: x / Azmiabubakar12 via CNBC)
