Elon Musk telah menjadikan robot humanoid sebagai pusat perhatian tahun ini, menempatkannya sebagai inti valuasi Tesla yang ia yakini bisa tembus puluhan triliun dolar.

Musk yakin robot Tesla akan berjaya di masa depan. Namun, Tesla belum mulai menjual robot humanoid andalannya, Optimus.

Kemungkinan besar justru jajaran perusahaan China mendahului Tesla dan meningkatkan produksi robot besar-besaran tahun ini.

“China saat ini memimpin atas Amerika Serikat dalam tahap awal komersialisasi robot humanoid. Meski kedua negara diperkirakan akan membangun pasar sama besar di masa depan, China melakukan skala produksi lebih cepat di fase awal ini,” ujar Andreas Brauchle, pengamat di konsultan Horvath.

Robot humanoid dirancang punya bentuk dan gerakan menyerupai manusia. Algoritma AI menggerakkannya bersama hardware kompleks seperti semikonduktor. Ia dapat digunakan di berbagai bidang, mulai pabrik, perhotelan, hingga rumah tangga.

Beberapa tahun terakhir, China menjadikan robotika sebagai fokus strategi teknologi. Presiden Xi Jinping dan pemimpin puncak negara tersebut (Komite Sentral) bertemu bulan Oktober dan merilis proposal “Rencana Lima Tahun ke-15,” dokumen yang menetapkan area fokus utama China untuk tahun-tahun mendatang.

Istilah “Embodied Artificial Intelligence” (AI yang diwujudkan secara fisik), yang merujuk pada hardware berbasis AI seperti robotika atau mobil tanpa pengemudi, turut disebutkan dalam teks tersebut.

Bagi China, robot berpotensi mengatasi tantangan tenaga kerja sekaligus sebagai supremasi teknologi.

“Dorongan China ke pengembangan robotika humanoid dipicu kombinasi antara upaya mengatasi tekanan demografi, memacu pertumbuhan ekonomi masa depan, dan memperkuat peran dalam kompetisi global,” kata Karel Eloot di McKinsey & Company.

Tingkat kelahiran di China menurun dan populasinya menua, menyebabkan berkurangnya jumlah angkatan kerja dan meningkatnya biaya tenaga kerja. Robot dipandang sebagai solusinya.

“China bisa menjadi pasar terpenting untuk humanoid,” kata RBC Capital Markets yang dikutip detikINET dari CNBC.

Analis memperkirakan pasar global untuk humanoid mencapai USD 9 triliun pada tahun 2050, dengan China menyumbang lebih dari 60% dari jumlah tersebut.

Perusahaan robotika China sedang berusaha melesat dengan produksi massal. Mereka antara lain Unitree, salah satu pemain paling populer yang sedang bersiap IPO dengan valuasi sekitar USD 7 miliar. Mereka meluncurkan model terbaru, H2, yang mampu menari.

Kemudian ada UBTech Robotics yang memproduksi robot industri (pabrik) dan aplikasi komersial (pemandu wisata). Model andalannya, Walker S2, dapat mengganti baterai sendiri agar beroperasi 24 jam sehari.

UBTech berencana mengirimkan 500 robot industri tahun ini dan meningkatkan produksi jadi 5.000 unit pada 2026 serta 10.000 unit pada 2027.

Terdapat lebih dari 150 perusahaan robot humanoid di China. Kekuatan manufaktur China dan keberhasilannya dalam meningkatkan produksi produk lain seperti kendaraan listrik memberikan keunggulan dalam robotika.

Kedalaman rantai pasokan China membuat perusahaan dapat memproduksi robot dengan keunggulan biaya signifikan dibandingkan wilayah lain. Faktanya, UBTech memperkirakan biaya produksi turun 20% hingga 30% setiap tahunnya.

Di sisi lain, AS unggul dalam AI dan pengembangan algoritma canggih. Meski pasar China diperkirakan lebih besar di awal, dalam jangka panjang kedua negara diprediksi akan memiliki pasar sama besar.

Penetrasi pasar massal diperkirakan terjadi setelah tahun 2040, didorong adopsi rumah tangga.

Sumber : detik. Robot di China. Foto: Distrik Shijingshan