Harga emas terus anjlok di tengah konflik di Timur Tengah masih berlangsung.

Merujuk Refinitiv, harga emas ditutup di posisi US$ 5078,89 per troy ons pada perdagangan Kamis kemarin (12/3/2026) atau jatuh 1,9%.

Pelemahan ini memperpanjang derita emas dengan ambruk 2,2% dalam dua hari terakhir.

Harga kemarin juga menjadi yang terendah sejak 5 Maret 2026 atau lima hari terakhir. Pelemahan juga menyeret harga emas ke level US$ 5.000 setelah ada di level US$ 5.100 selama empat hari beruntun.

Harga emas sedikit membaik pada hari ini. Pada Jumat (13/3/2026) pukul 06.18 WIB, harga emas menguat tipis 0,25% ke US$ 5.091, 38 per troy ons.

Gejolak geopolitik biasanya dapat menciptakan kondisi yang mendukung kenaikan harga emas. Namun, kekhawatiran baru mengenai inflasi kembali membuat investor gelisah.

Meski reli emas sempat terhenti, sejumlah bank masih tetap optimistis terhadap prospek harga emas.

Harga emas sempat melonjak selama perang 12 hari dengan Iran tahun lalu, sebelum akhirnya kembali melepas kenaikannya setelah gencatan senjata diumumkan. Namun kini, dua minggu setelah konflik terbaru dimulai, harga emas masih relatif tidak bergerak signifikan.

Emas naik dari US$5.296 menjadi US$5.423 per troy ons setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari. Pergerakan ini sejalan dengan pandangan umum bahwa gejolak geopolitik biasanya mendorong investor beralih ke aset safe haven tradisional.

Namun aksi jual kemudian terjadi dan membuat harga emas turun lebih dari 6% menjadi US$5.085 pada 3 Maret. Pada pekan ini, ketika konflik semakin memanas, harga emas bergerak di kisaran US$5.050 hingga US$5.200.

Menurut Ross Norman, CEO situs logam mulia Metals Daily, ada beberapa faktor yang menjelaskan mengapa harga emas belum mampu melanjutkan kenaikan, termasuk penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi Treasury.

Norman juga menambahkan bahwa kenaikan harga minyak dapat memicu inflasi yang lebih lama dan berpotensi mendorong suku bunga lebih tinggi, karena bank sentral harus menghadapi dampak dari kemungkinan penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran penting bagi perdagangan minyak dan gas dunia.

Suku bunga yang lebih tinggi biasanya meningkatkan daya tarik aset yang memberikan imbal hasil, seperti obligasi pemerintah, dibandingkan dengan logam mulia seperti emas yang tidak memberikan imbal hasil.

“Pergerakan harga emas dan perak saat ini terlihat kurang menggairahkan, tetapi mungkin itu wajar setelah pergerakan besar yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir,” kata Norman kepada CNBC International.

Ia juga menambahkan bahwa sebagian investor institusi menjadi lebih berhati-hati memegang emas batangan karena volatilitas harga yang tidak biasa.

Penjelasan lain adalah bahwa konflik sering memicu gelombang panic selling di kalangan investor. Kondisi ini dapat memicu apa yang disebut “flush”, yakni ketika trader terpaksa menjual posisi mereka saat harga turun, menurut Amer Halawi, kepala riset di Al Ramz.

“Jika terjadi krisis likuiditas, maka hampir semua aset akan dijual hingga pasar kembali memahami situasinya dan investor kembali fokus pada aset yang tepat,” katanya kepada CNBC dalam program “Access Middle East” pada Selasa.

“Secara tradisional, ketika terjadi guncangan, bahkan emas pun bisa ikut dijual terlebih dahulu sebelum akhirnya kembali naik.” Imbuhnya.

Meski volatilitas jangka pendek terjadi, sejumlah bank tetap optimistis terhadap prospek emas. J.P. Morgan memprediksi harga emas akan mencapai US$6.300 per ounce pada akhir 2026, sementara Deutsche Bank tetap mempertahankan target US$6.000 per ounce pada akhir tahun, berdasarkan catatan riset terbaru mereka.

Sumber : CNBC Indonesia