Cara anak muda menghasilkan uang dari internet terus berevolusi. Jika dulu identik dengan menjadi kreator atau influencer, kini muncul tren baru: Gen Z menjadi “penjual” produk digital di berbagai platform, mulai dari langganan konten hingga layanan berbasis aplikasi.
Fenomena ini sejalan dengan berkembangnya creator economy dan gig economy, di mana batas antara pengguna dan pelaku bisnis semakin kabur. Anak muda tak lagi sekadar menikmati konten digital, tetapi ikut menjadi bagian dari rantai distribusinya, bahkan menghasilkan cuan dari sana.
Sejumlah platform digital mulai menangkap tren ini dengan membuka program kemitraan atau afiliasi yang menyasar mahasiswa dan talenta muda. Skemanya beragam, namun umumnya menawarkan komisi dari setiap transaksi yang berhasil dibawa oleh peserta.
Salah satu contohnya datang dari WeWatch, platform media digital asal Asia Tenggara, yang baru-baru ini meluncurkan program untuk mendorong anak muda menjadi digital entrepreneur.
Lewat pendekatan “earn-as-you-grow”, peserta diajak langsung terjun menjual layanan digital dan mendapatkan komisi yang diklaim bisa mencapai 30%.
Tak berhenti di situ, performa peserta juga menjadi penentu peluang karier. Talenta terbaik bahkan berkesempatan direkrut menjadi karyawan penuh waktu dan bergabung dalam ekspansi global perusahaan.
“Talenta muda kita bukan sekadar pengamat revolusi digital; mereka adalah arsiteknya,” ujar CEO WeWatch, Sarah Wang, dikutip dari keterangan resmi.

Menurutnya, generasi muda memiliki peran penting dalam membentuk masa depan industri digital, terutama jika didukung dengan teknologi dan platform yang tepat.
Tren ini juga mencerminkan perubahan pola pikir Gen Z terhadap dunia kerja. Banyak anak muda kini tak lagi menunggu pekerjaan tetap setelah lulus, melainkan mulai membangun penghasilan sejak dini melalui berbagai platform digital.
Menariknya, pendekatan ini semakin erat dengan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI). Beberapa platform, termasuk WeWatch, mulai membekali peserta dengan tools berbasis AI untuk membantu analisis pasar, pembuatan konten promosi, hingga strategi penjualan.
Kombinasi antara komisi, fleksibilitas, dan dukungan teknologi membuat model ini terlihat menjanjikan. Namun, tidak sedikit yang mempertanyakan keberlanjutannya.
“Tanpa strategi yang tepat, kemampuan membangun audiens, serta konsistensi, peluang cuan besar bisa jadi tidak semudah yang dibayangkan,” kata Wang.
Di sinilah tantangan sebenarnya bagi Gen Z. Bukan sekadar ikut tren, tetapi mampu memanfaatkan peluang ini secara cerdas dan berkelanjutan.
Dengan semakin banyaknya platform yang membuka peluang serupa, tren “jualan konten digital” berpotensi menjadi pintu baru bagi Gen Z untuk masuk ke dunia kerja-dengan cara yang lebih fleksibel, mandiri, dan berbasis teknologi.
Sumber : detik. Tren Baru Gen Z: Jualan Konten Digital, Cuan dari Platform AI. Foto: Gemini
