Di tengah derasnya arus informasi kesehatan, literasi masyarakat terhadap penggunaan herbal yang tepat masih perlu diperkuat.

Menjawab kebutuhan tersebut, PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (Sido Muncul) meluncurkan Sido HerbalPedia dan SiHerbie – Your Smart Herbal Assistant yang merupakan sebuah platform digital Pusat Informasi Herbal dan Kesehatan.

Peluncuran Sido HerbalPedia ini menjadi bagian dari rangkaian perayaan 75 tahun Sido Muncul, sekaligus bentuk komitmen perusahaan dalam memberikan kontribusi nyata bagi kesehatan masyarakat.

Direktur Utama Sido Muncul selaku Penggagas Kompendium dan Portal Digital Sido HerbalPedia, Irwan Hidayat mengatakan kehadiran platform ini bukan sekadar inovasi digital, tetapi bagian dari upaya edukasi kepada masyarakat luas agar lebih memahami manfaat herbal secara tepat.

“Tujuan kami sederhana, mendidik masyarakat supaya mengerti bahwa produk herbal itu sebenarnya sudah ada uji klinisnya. Jadi bukan sekadar empiris,” ujar Irwan dalam acara peluncuran Sido HerbalPedia di Kantor Sido Muncul, Gedung House of Jamu, Jakarta Selatan, Kamis (23/4/2026).

Ia menilai masih banyak masyarakat yang belum memahami secara utuh manfaat dan penggunaan herbal yang tepat. Karena itu, Sido HerbalPedia hadir sebagai sumber informasi yang mudah diakses dan relevan dengan kebutuhan sehari-hari.

“Kami ingin masyarakat tahu, kalau sakit apa, rekomendasinya apa. Bahkan tidak hanya itu, mereka juga bisa mendapatkan informasi tambahan tentang gaya hidup sehat,” jelasnya.

Mengangkat Kembali Warisan Herbal Nusantara Lewat Pendekatan Ilmiah

Irwan mengungkapkan, ide menghadirkan Sido HerbalPedia berangkat dari kegelisahan pribadi terhadap posisi jamu yang semakin terpinggirkan di tengah dominasi obat modern.

Menurutnya, sebelum berkembangnya farmasi modern, manusia sangat bergantung pada bahan alam untuk pengobatan. Namun sejak ditemukannya metode isolasi senyawa aktif dari tanaman pada akhir abad ke-19, pendekatan pengobatan mulai bergeser.

“Dulu semua menggunakan bahan alam. Tapi sejak ditemukan senyawa aktif dari tanaman seperti salisin dari pohon willow yang kemudian menjadi aspirin, dunia mulai fokus pada isolasi dan sintesis,” ujar Irwan.

Sejak saat itu, lanjutnya, ramuan tradisional seperti kunyit, temulawak, dan berbagai tanaman obat lain perlahan ditinggalkan, bahkan minim penelitian lanjutan.

Berangkat dari kondisi tersebut, Irwan memilih pendekatan yang berbeda. Alih-alih memulai riset dari nol, ia dan tim mengumpulkan berbagai hasil penelitian yang telah tersebar di jurnal ilmiah.

“Sebenarnya riset tentang tanaman obat itu sudah banyak sekali. Tinggal bagaimana kita mengumpulkan, merangkum, dan menyajikannya agar mudah dipahami masyarakat,” jelasnya.

Hasil dari proses tersebut kemudian diwujudkan dalam bentuk buku, hingga akhirnya dikembangkan menjadi platform digital Sido HerbalPedia. Melalui portal ini, masyarakat dapat mencari informasi berdasarkan jenis penyakit, lalu menemukan rekomendasi bahan herbal yang relevan.

Informasi yang disajikan tidak hanya sebatas manfaat, tetapi juga mencakup uji klinis, uji toksisitas, hingga mekanisme kerja. Dengan pendekatan ini, Irwan berharap masyarakat bisa lebih mandiri dalam memahami pilihan pengobatan, khususnya yang berbasis bahan alam.

Jamu sebagai Pendamping, Bukan Pengganti Obat Modern

Meski mendorong pemanfaatan herbal, Irwan tetap menekankan bahwa jamu bukanlah pengganti obat medis. Menurutnya, posisi jamu lebih tepat sebagai pendamping atau pendukung dalam proses penyembuhan.

“Obat modern tetap sangat dibutuhkan. Tapi herbal bisa menjadi support. Bahkan sekarang sudah mulai dipraktikkan oleh dokter,” pungkas Irwan.

Pendekatan integratif ini dinilai menjadi jalan tengah antara pengobatan modern dan tradisional, yang dapat memberikan manfaat optimal bagi pasien. YCM

Sumber : Liputan 6. Foto : Peluncuran Sido Herbalpedia, Warisan Herbal Nusantara untuk Solusi Kesehatan Holistik