Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump merasa tidak senang dan tidak puas dengan proposal terbaru yang diajukan Iran, melalui mediator Pakistan, untuk membuka Selat Hormuz dan mengakhiri perang.

Laporan media terkemuka AS New York Times (NYT), yang mengutip sejumlah sumber yang memahami diskusi proposal Iran itu, seperti dilansir Anadolu Agency, Selasa (28/4/2026), menyebut Trump telah mendapatkan penjelasan tentang proposal tersebut dalam rapat di Situation Room Gedung Putih pada Senin (27/4/2026).

Proposal terbaru itu memprioritaskan pembukaan kembali Selat Hormuz oleh Iran, dengan syarat AS mencabut blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Teheran.

Menurut sejumlah pejabat AS dan Iran, proposal tersebut tidak membahas apa yang harus dilakukan dengan program nuklir Teheran.

Iran sebelumnya menolak tuntutan AS agar menghentikan semua pengayaan uranium, dengan alasan bahwa mereka memiliki hak berdasarkan hukum internasional untuk melakukannya. Teheran sejauh ini menolak untuk menyerahkan uranium yang telah mereka perkaya.

Tidak diketahui secara jelas apa tepatnya yang membuat Trump tidak puas dengan proposal Iran tersebut. Namun dia telah sejak lama bersikeras pada kedua tuntutan nuklir AS tersebut.

Seorang pejabat AS, yang enggan disebut namanya, mengatakan bahwa menerima proposal Iran itu akan secara terbuka menyangkal kemenangan Trump.

“Amerika Serikat tidak akan bernegosiasi melalui pers — kami telah menjelaskan dengan jelas mengenai batasan-batasan kami dan presiden hanya akan membuat kesepakatan yang baik bagi rakyat Amerika dan dunia,” tegas juru bicara Gedung Putih, Olivia Wales, kepada NYT.

Proposal baru Iran itu pertama dilaporkan oleh media AS, Axios, pada Minggu (26/4) waktu setempat, tak lama setelah melaporkan bahwa Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi menyerahkan proposal tersebut kepada mediator Pakistan.

Menurut Axios, proposal terbaru Iran itu mengusulkan perpanjangan gencatan senjata untuk jangka waktu lama atau dibuat permanen, sedangkan perundingan nuklir hanya akan dimulai setelah Selat Hormuz dibuka kembali dan blokade laut AS dicabut.

AS telah bersikeras agar Iran menangguhkan pengayaan uranium setidaknya selama satu dekade dan memindahkan pasokan uranium yang diperkaya dari negara tersebut. Tuntutan itu belum secara resmi diterima oleh Teheran.

Di bawah proposal baru yang diajukan Iran, negosiasi nuklir hanya akan dimulai pada tahap selanjutnya, setelah Selat Hormuz dibuka dan blokade AS dicabut. Menerima urutan seperti itu, menurut Axios, akan berisiko menyerahkan sumber daya tawar utama AS — blokade laut — sebelum menuntaskan masalah nuklir.

Sumber : detik. Presiden AS Donald Trump (dok. AFP/FABRICE COFFRINI)