Bismillaahirrohmannierrohiem.
Sang ayah tersenyum mendengar pertanyaan anaknya.
Ia menarik napas dalam, lalu berkata dengan lembut, “Nak, cinta adalah energi paling kuat yang menggerakkan kehidupan. Ia bukan sekadar perasaan, tetapi sebuah komitmen, pengorbanan, dan ketulusan yang lahir dari hati.”
Sang anak mengernyitkan dahi, “Jadi, cinta itu bukan hanya perasaan senang dan bahagia, Ayah?”
Sang ayah menggeleng, “Tidak, nak. Jika cinta hanya soal perasaan, maka ia akan rapuh. Perasaan bisa berubah—hari ini bahagia, besok kecewa. Tapi cinta sejati lebih dari itu. Ia adalah keputusan untuk tetap peduli, tetap berjuang, dan tetap setia meskipun keadaan tidak selalu indah.”
Sang anak berpikir sejenak, lalu bertanya lagi, “Lalu mengapa cinta kadang menyakitkan?”
Sang ayah tersenyum tipis, “Karena cinta sejati bukan tentang memiliki atau menguasai, tetapi tentang memberi. Orang yang benar-benar mencintai tidak hanya ingin bahagia sendiri, tetapi juga ingin melihat yang dicintainya bahagia, meskipun kadang itu berarti harus melepaskan, mengorbankan, atau menahan diri.”
Sang anak terdiam, lalu berkata, “Jadi, cinta itu bukan sekadar kata-kata, tetapi tentang bagaimana kita bertindak?”
Sang ayah mengangguk, “Tepat sekali, nak. Cinta sejati terlihat dalam kesabaran seorang ibu, dalam perjuangan seorang ayah, dalam keikhlasan seorang sahabat. Cinta adalah cahaya yang tidak hanya menghangatkan, tetapi juga menerangi.” (FR)