Bismillaahirrahmanirrahiem.
Seorang anak kecil bertanya kepada ayahnya, “Ayah, mengapa kita berpuasa? Mengapa kita harus berlapar-lapar dan berhaus-haus sepanjang siang?”

Sang ayah tersenyum dan menjawab, “Nak, puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus. Puasa adalah latihan jiwa. Bayangkan kita seperti benih yang ditanam di tanah. Jika benih itu tidak diuji oleh panas matahari dan kekeringan, akarnya tidak akan tumbuh kuat. Begitu juga dengan kita, tanpa ujian lapar dan haus, kita tidak akan belajar tentang kesabaran dan keikhlasan.”

Anak itu terdiam, lalu bertanya lagi, “Tapi ayah, mengapa harus lapar? Bukankah lebih baik jika kita selalu kenyang?”

Sang ayah mengelus kepala anaknya dan berkata, “Ketika kita merasakan lapar, kita mengerti bagaimana rasanya menjadi orang yang kekurangan. Kita belajar untuk bersyukur atas setiap suap makanan yang kita miliki dan belajar berbagi dengan mereka yang tidak seberuntung kita.”

Ramadhan mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati bukanlah pada kenyamanan fisik semata, tetapi pada ketahanan jiwa, kedekatan dengan Allah, dan keikhlasan dalam memberi.(FR)