بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Seorang laki-laki tertentu dianggap telah mati dan sedang dipersiapkan penguburannya ketika ia hidup kembali.
Ia bangkit dan duduk, tetapi ia kaget melihat suasana di sekelingnya sehingga ia pingsan.
Ia dimasukkan ke dalam peti mati, dan rombongan penggiring jenazah berangkat ke tempat penguburan.
Tepat ketika mereka tiba di liang kubur ia sadar kembali, mengangkat tutup peti mati, dan berteriak minta tolong.
“Tidak mungkin ia hidup kembali,” kata orang-orang yang berkabung. “sebab ia telah dinyatakan meninggal oleh ahli-ahli yang berwenang.”
“Tapi aku hidup!” teriak orang itu.
Ia menghimbau kepada seorang ilmuwan terkenal dan tidak berat sebelah dan ahli dalam hukum yang juga hadir.
“Tunggu sebentar’ kata ahli itu.
Ia lalu berpaling kepada para penggiring jenazah, menghitung mereka.
“Sekarang kita telah mendengar apa yang harus dikatakan oleh orang mati tertuduh itu. Kalian lima puluh orang saksi, beritahu aku apa yang kalian pandang sebagai kebenaran?”
“Ia mati” kata saksi-saksi itu.
“Kubur dia”, kata ahli tadi.
Dan demikianlah ia dikubur.
Ceritera ini dikutip dari buku Jalan Sufi oleh Idries Shah. Ceritera itu merupakan suatu pelajaran dari kaum sufi, yang menguras pikiran kita untuk memahami pelajarannya.
Makna Cerita: Kematian yang Bukan Kematian
Cerita sufi ini mengandung kritik mendalam terhadap cara berpikir manusia—terutama tentang kebenaran, persepsi, dan otoritas sosial.
Ada beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah ini:
1. Kebenaran Bisa Dikalahkan oleh Konsensus
Orang yang “hidup kembali” berusaha menyatakan bahwa ia masih hidup, tetapi ia ditolak karena pendapat mayoritas lebih dipercaya daripada kenyataan yang ia alami sendiri.
Ini menggambarkan bagaimana dalam masyarakat, banyak orang lebih percaya pada apa yang dikatakan oleh otoritas atau mayoritas, daripada apa yang sebenarnya terjadi. Bahkan ketika bukti jelas ada di depan mata, orang tetap memilih mempercayai opini kolektif.
Dalam kehidupan nyata, sering kali kebenaran dikalahkan oleh persepsi yang dibentuk oleh media, otoritas, atau opini mayoritas.
2. Otoritas Bisa Menyesatkan
Ahli yang berwenang dalam cerita ini seharusnya menilai dengan akal sehat, tetapi ia justru lebih percaya pada jumlah saksi daripada pada fakta yang ada di hadapannya.
Ini adalah sindiran terhadap bagaimana orang sering tunduk pada otoritas tanpa mempertanyakan apakah keputusan otoritas itu benar atau tidak. Dalam sejarah, banyak kesalahan fatal terjadi karena orang-orang lebih memilih mengikuti keputusan otoritas yang salah daripada melihat kebenaran dengan mata mereka sendiri.
Dalam dunia hukum, politik, dan ilmu pengetahuan, sering terjadi bahwa orang lebih percaya kepada otoritas atau gelar seseorang daripada melihat fakta dengan jernih.
3. Kehidupan dan Kematian: Metafora untuk Kesadaran
Dalam perspektif sufi, kematian dalam cerita ini bukan sekadar kematian fisik, tetapi kematian kesadaran.
Banyak orang hidup tetapi sebenarnya “mati” secara spiritual—mereka tidak berpikir kritis, tidak mencari kebenaran, hanya mengikuti arus sosial tanpa bertanya.
Sebaliknya, orang yang benar-benar sadar bisa dianggap “mati” oleh masyarakat karena pikirannya berbeda dengan mayoritas.
Para nabi, wali, dan orang-orang bijak sering dianggap “gila” atau “tidak masuk akal” oleh masyarakatnya sendiri karena mereka melihat kebenaran yang tidak disadari oleh orang lain.
Kesimpulan: Jangan Menjadi Orang yang Mati dalam Kehidupan
Cerita ini mengajarkan kita untuk:
Berani berpikir sendiri, jangan hanya ikut mayoritas.
Jangan percaya begitu saja kepada otoritas, selidiki kebenaran.
Jangan hanya hidup secara fisik, tapi juga hidup secara spiritual dan intelektual.
Mungkin pertanyaannya sekarang:
Apakah kita benar-benar hidup, ataukah kita hanya mengikuti arus seperti orang mati yang berjalan?
Menjadi “hidup” berarti berani mencari kebenaran, meskipun harus melawan arus mayoritas. (FR)
