Sejatinya Bobby Bahrul seorang Insinyur Elektronika yang pernah bekerja di pertambangan emas. Namun sudah hampir dua dekade terakhir ia justru menekuni bisnis kuliner cokelat. Ingin tampil beda, Bobby memberikan rasa ‘unik’ pada produk cokelatnya.

Selepas dari Universitas Indonesia, Bobby bekerja di tambang emas milik perusahaan patungan Australia, Afrika Selatan, dan Aneka Tambang di Kalimantan Timur sejak 1998.

Kehidupan sebagai pekerja tambang membuatnya terbiasa dengan ritme kerja yang jauh dari keluarga, dengan jadwal turun lapangan setiap enam minggu sekali.

Kondisi itu membuatnya banyak melewatkan fase awal pernikahan yang ia jalani bersama Rahma, perempuan Banjar yang ia nikahi pada 1999.

“Jujur sebagai pengantin baru kala itu saya merasa tersiksa, kesepian,” tuturnya saat ditemui para wartawan peserta Fellowship Journalism BRI di Samarinda, Selasa (21/4/2026).

Pada 2001, setelah merasa cukup secara finansial, Bobby memutuskan meninggalkan dunia tambang. Keputusan itu menjadi titik balik penting yang membawanya masuk ke dunia usaha. Namun perjalanan sebagai wirausaha tidak langsung menemukan bentuknya.

Ia sempat mencoba berbagai bidang, mulai dari bisnis digital hingga keramik, tanpa benar-benar menetap pada satu model usaha.

Di sisi lain, Rahma juga keluar dari pekerjaannya di industri makanan (Indofood) pada 2008. Dari sini, keduanya mulai mencari kembali titik temu yang lebih personal sekaligus berkelanjutan sebagai pasangan: sesuatu yang bisa mereka bangun bersama dari nol. Jawabannya ternyata datang dari hal sederhana yang sudah lama mereka sukai. Cokelat.

Berangkat dari hobi yang sama, Bobby dan Rahma kemudian merintis ABBA Cokelat sebagai usaha rumahan. Untuk modal, keduanya beberapa kali mengajukan kredit dari BRI.

Sejak awal, Bobby mengambil peran sebagai perancang strategi dan pemasaran, sementara Rahma fokus pada produksi. Mereka tidak memilih jalur produksi massal yang kompetitif dengan industri besar, melainkan masuk ke ceruk cokelat custom.

“Saingan utama kami kan industri besar, pasti kalah kalau ikut ceruk yang sama. Mereka lebih murah. Jadi kami pilih yang custom,” kata Bobby.

Model bisnis ini memungkinkan pelanggan memilih sendiri jenis cokelat, varian rasa, hingga desain kemasan. Meski di awal menghadapi tantangan biaya produksi tinggi karena bahan baku harus didatangkan dari Jawa, Bobby melihat peluang pasar yang masih terbuka di Kalimantan Selatan.

Pendekatan UMKM berbasis personalisasi ini perlahan membuat ABBA Cokelat menemukan pasarnya sendiri.

Salah satu terobosan penting datang ketika Bobby mulai menjalin kedekatan dengan petani cabai Hiyung di Kabupaten Tapin. Cabai lokal yang tumbuh di lahan rawa ini dikenal memiliki tingkat kepedasan tinggi, bahkan diklaim hingga 17 kali lebih pedas dibanding cabai biasa. Dari sinilah lahir ide Hiyuco, cokelat hitam dengan sentuhan pedas yang menjadi identitas khas ABBA Cokelat.

“Ini tantangan untuk pecinta pedas. Manis cokelatnya bertemu pedas, jadi pengalaman yang tidak terlupakan,” kata Bobby.

Untuk menjaga kualitas rasa, Bobby dan Rahma hanya menggunakan daging cabai Hiyung yang sudah dikeringkan tanpa biji. Menurut Bobby, biji cabai dapat meninggalkan aftertaste pahit atau asam serta mengandung minyak yang berpotensi membuat produk cepat tengik dan bertekstur kasar.

“Dengan menghilangkannya, cokelat kami tetap halus, pedas bersih, dan nikmat sampai gigitan terakhir,” ujar Bobby.

Nama ABBA sendiri kerap disangka terinspirasi dari grup musik legendaris asal Swedia. Namun Bobby meluruskannya dengan santai. “Itu inisial nama saya dan istri, biar so sweet,” katanya. Huruf A berasal dari Rahma, sementara B dari Bobby Bahrul.

Sebagai pelaku UMKM, perjalanan ABBA Cokelat juga ditandai dengan sejumlah pencapaian. Pada 2014, mereka meraih juara nasional dari Kementerian Pertanian untuk kategori produk berdaya saing.

Di tahun-tahun berikutnya, inovasi mereka kembali mendapat perhatian di berbagai ajang kreatif nasional. Hingga pada 2025, varian cokelat pedas Hiyuco kembali mencuri sorotan dalam festival kuliner Kalimantan Selatan.

Sumber : detik. Foto : Bobby Bahrul, pengusaha cokelat Kalimantan. Foto: Sudrajat/detikcom