Harga emas dunia dan logam mulia diprediksi fluktuatif di tengah tensi geopolitik. Pengamat proyeksi harga emas bisa tembus Rp 3,3 juta per gram pada kuartal II 2026.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan harga emas dunia dan logam mulia masih akan bergerak fluktuatif dalam waktu dekat, seiring tekanan dari berbagai faktor global, terutama geopolitik, penguatan dolar Amerika Serikat, dan kenaikan harga minyak mentah.

Ia menyebut, pada penutupan terakhir, harga emas dunia berada di level USD 4.616 per troy ounce, sementara logam mulia ditutup di Rp 2.796.000 per gram. Dalam jangka pendek, harga emas berpotensi terkoreksi dengan level support di USD 4.520 hingga USD 4.389, yang turut mendorong harga logam mulia mendekati Rp 2.750.000 per gram.

“Untuk harga emas dunia, harga emas dunia kemarin ditutup di USD 4.616. Apabila mengalami penurunan, koreksi, itu di USD 4.520, itu support pertama. Untuk support kedua, itu kemungkinan besar di USD 4.389,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (3/5/2026).

Meski demikian, ia melihat potensi penguatan tetap terbuka. Jika harga emas dunia menguat, level resistensi diperkirakan berada di USD 4.702 hingga USD 4.851 per troy ounce, dengan harga logam mulia berpeluang mencapai Rp 2.900.000 per gram dalam waktu dekat.

Dalam proyeksi kuartal kedua, Ibrahim memperkirakan harga emas dunia dapat menembus USD 5.400 per troy ounce, sementara logam mulia berpotensi mencapai Rp 3.300.000 per gram.

“Secara teknikal bahwa kuartal kedua kemungkinan besar harga emas dunia itu mencapai di USD 5.400, kemudian untuk logam mulianya itu di Rp 3.300.000 per gram,” katanya.

Ia menjelaskan, fluktuasi harga emas dan logam mulia dipengaruhi oleh sejumlah faktor utama, dengan geopolitik menjadi kontributor terbesar. Ketegangan di Timur Tengah, termasuk konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, dinilai berpotensi memicu lonjakan harga emas jika terjadi perang terbuka.

Selain itu, gangguan distribusi minyak di Selat Hormuz dan Laut Oman turut mendorong kenaikan harga minyak mentah dan penguatan dolar AS, yang pada akhirnya menekan harga emas dalam jangka pendek.

Faktor lain yang mempengaruhi pergerakan harga adalah perang dagang, dinamika politik di Amerika Serikat, kebijakan bank sentral global terkait suku bunga, serta kondisi supply dan demand. Dalam kondisi harga yang terkoreksi, Ibrahim menilai hal ini menjadi peluang bagi investor untuk mengakumulasi logam mulia.

Ia menambahkan, dalam jangka menengah hingga panjang, harga emas dan logam mulia masih berpotensi mengalami kenaikan seiring kombinasi faktor-faktor global tersebut.

Sumber : Liputan 6