Investor asing kembali melakukan aksi jual dari pasar keuangan Tanah Air di sepanjang pekan lalu, seiring gejolak pasar modal setelah MSCI membekukan perubahan indeks untuk Indonesia.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) sepanjang periode perdagangan 26-29 Januari 2026, investor asing tercatat membukukan jual neto Rp12,55 triliun.

Arus keluar ini terutama berasal dari pasar saham yang mencatat jual bersih Rp12,40 triliun, disusul pasar Surat Berharga Negara (SBN) dengan jual neto Rp2,77 triliun.

Di sisi lain, asing justru masih membukukan beli neto Rp2,61 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), mengindikasikan sebagian investor memilih menempatkan di instrumen moneter yang memiliki risiko rendah di tengah volatilitas ekuitas dan obligasi.

Sejalan dengan keluarnya arus modal asing, indikator risiko Indonesia ikut meningkat. Premi Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor 5 tahun per 29 Januari 2026 tercatat naik ke 75,31 basis poin (bps), dari 73,05 bps pada 23 Januari 2026.

CDS mengukur risiko gagal bayar (default risk) dari suatu entitas penerbit utang, biasanya negara (sovereign) atau perusahaan.

Level ini menjadi yang tertinggi sejak 6 November 2025, saat CDS Indonesia berada di 75,49 bps. Kenaikan CDS menandakan investor global makin berhati-hati, meski levelnya masih relatif terjaga.

Tekanan sentimen juga datang dari pasar modal domestik yang mengalami koreksi tajam setelah rilis MSCI pada Selasa (27/1/2026) atau Rabu (28/1/2026) dini hari waktu Indonesia.

Dalam tinjauan terbarunya, MSCI memutuskan membekukan seluruh perubahan indeks untuk sekuritas Indonesia. Implikasinya, peluang saham-saham baru untuk masuk ke indeks global tertutup, sementara saham yang sudah masuk indeks pun tidak dapat memperoleh kenaikan bobot (weighting), meski fundamentalnya membaik.

Kondisi tersebut memicu aksi jual asing yang lebih agresif dan memperbesar outflow di pasar saham Indonesia sepanjang pekan lalu.

Namun demikian, secara kumulatif sepanjang tahun 2026 hingga 29 Januari 2026, berdasarkan data setelmen, investor asing masih mencatat beli neto Rp4,84 triliun di pasar saham dan Rp6,18 triliun di SRBI. Namun, di pasar SBN asing masih berada di zona negatif dengan jual neto Rp100 miliar.

Bank Indonesia menegaskan akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait, serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan guna mendukung ketahanan eksternal perekonomian Indonesia.

Sumber : CNBC Indonesia