Wadai Khu adalah penganan khas Tionghoa simbol panjang umur.

Berwarna merah dan bercetak motif kura-kura, Khu dipersembahkan untuk mereka yang berulang tahun.

“Nah pas ada empat, sabuting sorang (masing-masing dapat bagian sebiji),” ujar Titi, di Banjarmasin, Selasa (8/8/2023).

Titi, pemilik usaha kuliner di kawasan kampung Pacinan, berbagi wadai kura-kura kepada tiga rekannya. Menurut dia, wadai kura-kura untuk panjang umur.

Pengamat budaya Tionghoa Lim Hok Tjiang menerangkan sejarah wadai Khu berkaitan dengan Dewa Obat.

Dewa di langit yang berwujud kura-kura merasa iba ketika di bumi dilanda kekeringan parah.

Sebelumnya ia meminta tolong kepada dewa-dewa langit lainnya agar menurunkan hujan. Tapi tak seorang pun yang bersedia.

Dewa Obat kemudian menurunkan hujan dengan mengorbankan dirinya. Karena tindakannya yang dianggap melanggar aturan langit ia pun mendapat hukuman kaisar langit. Diturunkan ke dunia dalam rupa manusia dan menjalani peran sebagai Dewa Obat.

Sang dewa “mengalami penderitaan” di bumi puluhan tahun,memerankan diri sebagai manusia.

Pengorbanan tertingginya ia lakukan sekali lagi dengan membelah dirinya untuk mengatasi masalah kekeringan panjang di bumi.

Setelah membelah dirinya, darah sang dewa berubah menjadi butiran air tumpah dari angkasa. Dewa Obat pun pulang ke langit dan menyelesaikan hukumannya di bumi. Wujudnya kembali seperti semula sebagai dewa berbentuk kura-kura.

“Orang yang penyembahyang (taat beribadah) tidak akan makan kura-kura karena tahu asal usulnya,” pungkas Hok Tjiang. BA