Pergantian tahun adalah momen lintas waktu: satu kaki masih di masa lalu, satu kaki mulai melangkah ke masa depan.
Dalam perspektif tasawuf, ini bukan sekadar perubahan angka kalender, melainkan isyarat tentang perjalanan jiwa dalam arus zaman.
Ayat Al-Qur’an untuk Refleksi Pergantian Tahun
QS. Al-Hasyr (59): 18
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok; dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Ayat ini sangat khas untuk pergantian waktu, karena Al-Qur’an menyebut masa depan dengan kata ghad (esok) –bukan sekadar waktu kronologis, tetapi masa depan eksistensial jiwa.
Tahun yang berlalu bukanlah sesuatu yang pergi meninggalkan kita; kitalah yang berjalan meninggalkannya. Waktu tidak pernah bergerak –yang bergerak adalah kita di dalam waktu.
Dalam pandangan para arif billah, setiap tahun adalah wadah amanah. Ia datang kosong, lalu pulang membawa jejak hati, niat, dan kesadaran kita.
Tahun 2025 telah kembali kepada Allah sebagai saksi: ia membawa catatan tentang kapan kita ingat dan kapan kita lalai, kapan kita jujur dan kapan kita bersembunyi dari nurani.
Pergantian ke tahun 2026 bukan jaminan tambahan umur, melainkan penangguhan kematian. Maka pertanyaannya bukan: apa rencana kita tahun depan, tetapi:
“Apakah aku akan lebih dekat kepada-Nya, atau hanya semakin mahir mengatur dunia?”
Dalam tasawuf, yang dituntut bukan banyaknya amal, melainkan kejernihan hadir dalam amal. Satu dzikir dengan hati yang terjaga lebih bernilai daripada seribu langkah yang kosong dari kesadaran Ilahi.
Tahun baru adalah pintu, tetapi tidak semua orang masuk. Sebagian hanya berdiri di ambangnya, sibuk menghitung hari, namun lupa menyucikan diri.
Maka, wahai jiwa:
• Jika 2025 penuh keluh, jadikan 2026 tahun ridha.
• Jika 2025 penuh ambisi, jadikan 2026 tahun kepasrahan yang sadar.
• Jika 2025 dipenuhi pencarian makna, semoga 2026 menjadi tahun perjumpaan.
Karena pada akhirnya, umur bukan diukur oleh tahun, melainkan oleh seberapa sering hati pulang kepada Allah.
Penutup
“Bukan siapa yang paling lama hidup yang beruntung, tetapi siapa yang paling hidup dalam kesadaran akan Allah.”
Semoga tahun 2026 bukan hanya bertambah dalam hitungan, tetapi bertambah dalam cahaya.(FR)
Foto : Kembang api meledak saat drone menampilkan angka “2026” di langit malam selama perayaan Tahun Baru, di Barcelona, Spanyol. (REUTERS/Bruna Casas)
