Pasar saham ramai membicarakan satu fenomena musiman yang hampir selalu muncul, yakni January Effect.

BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) menjelaskan January Effect adalah periode di mana harga saham, terutama saham berkapitalisasi kecil, sering menunjukkan performa lebih baik di awal Januari dibanding bulan lainnya.

Tidak sedikit investor yang mulai mengintip peluang ini sejak akhir Desember, dengan harapan bisa menangkap momentum awal tahun.

Fenomena ini menarik karena bukan hanya soal teknikal, tapi juga terkait perilaku investor. Mulai dari arus dana baru, rebalancing portofolio, hingga perubahan psikologi pasar di awal tahun.

“Namun, pertanyaannya, apakah January Effect masih relevan di kondisi pasar saat ini?” ungkap BRIDS dalam ulasannya dikutip Kamis (1/1/2026).

January Effect adalah anomali musiman di pasar saham, di mana harga saham cenderung menguat pada bulan Januari.

Menurut BRIDS, efek ini paling sering terlihat pada saham small cap karena likuiditasnya lebih kecil sehingga lebih sensitif terhadap arus dana masuk.Diskon Saham

Beberapa faktor yang sering dikaitkan dengan January Effect antara lain tax-loss selling di akhir tahun, di mana investor menjual saham rugi di Desember lalu membeli kembali di Januari.

Masuknya dana baru di awal tahun, baik dari bonus, tabungan baru, maupun alokasi investasi fresh. Kemudian rebalancing portofolio oleh manajer investasi setelah tutup buku akhir tahun. Dan efek psikologis awal tahun, di mana optimisme pasar biasanya lebih tinggi.

Secara historis, terang BRIDS, January Effect lebih sering terlihat pada small cap & second liner, karena lebih mudah terdorong oleh kenaikan demand. Saham yang sebelumnya tertekan di akhir tahun. Dan emiten dengan likuiditas cukup, tapi valuasi masih relatif rendah.

“Sebaliknya, saham big cap cenderung bergerak lebih stabil dan tidak selalu menunjukkan lonjakan signifikan dari efek musiman ini,” kata BRI Danareksa Sekuritas.

Namun BRIDS mengingkatkan January Effect bukan jaminan pasar pasti naik. Efek ini sangat bergantung pada kondisi global (suku bunga, geopolitik, sentimen risiko, arus dana asing, dan sentimen makro di awal tahun Dalam beberapa tahun, efek ini melemah atau bahkan tidak terlihat sama sekali karena tekanan eksternal yang lebih dominan.

“January Effect mencerminkan bagaimana perilaku investor dan arus dana musiman bisa memengaruhi pergerakan saham di awal tahun. Meski tidak selalu terjadi, fenomena ini tetap relevan untuk dipantau sebagai bagian dari strategi membaca sentimen pasar. Kuncinya bukan sekadar ikut-ikutan, tapi memahami konteks dan memilih saham secara selektif,” pungkas BRIDS.

Sumber : Investor. Foto : Pengunjung berada di galeri edukasi Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Investor Daily/David Gita Roza