Ambisi besar datang dari Panthalassa, sebuah startup yang berencana memindahkan sebagian infrastruktur kecerdasan buatan (AI) dari daratan ke laut dalam.

Mereka merancang pusat data yang sepenuhnya beroperasi menggunakan tenaga ombak dan sistem pendingin air laut.

Keyakinan bahwa energi laut lepas dan komputasi lepas pantai akan berkembang lebih cepat ketimbang pusat data di darat membuat perusahaan ini berhasil mengantongi pendanaan Seri B sebesar USD 140 juta (sekitar Rp 2,2 triliun). Dana ini akan digunakan untuk mengubah prototipe mereka menjadi perangkat keras komersial perdana.

Konsep dasarnya sebenarnya cukup lugas: menghasilkan listrik dari ombak, menggunakannya langsung di tempat, dan menjalankan chip AI tanpa perlu terhubung ke jaringan listrik darat.

Untuk mewujudkannya, Panthalassa membangun platform otonom yang disebut nodes. Perangkat ini berupa struktur baja tinggi yang sebagian besar tenggelam di bawah permukaan air dan bergerak naik-turun mengikuti ayunan ombak.

Pusat Data Mandiri Tanpa Listrik Darat
Pergerakan vertikal dari omberasi menggunakan tenaga ombak dan sistem pendingin air laut.

Keyakinan bahwa energi laut lepas dan komputasi lepas pantai akan berkembang lebih cepat ketimbang pusat data di darat membuat perusahaan ini berhasil mengantongi pendanaan Seri B sebesar USD 140 juta (sekitar Rp 2,2 triliun). Dana ini akan digunakan untuk mengubah prototipe mereka menjadi perangkat keras komersial perdana.

Konsep dasarnya sebenarnya cukup lugas: menghasilkan listrik dari ombak, menggunakannya langsung di tempat, dan menjalankan chip AI tanpa perlu terhubung ke jaringan listrik darat.

Untuk mewujudkannya, Panthalassa membangun platform otonom yang disebut nodes. Perangkat ini berupa struktur baja tinggi yang sebagian besar tenggelam di bawah permukaan air dan bergerak naik-turun mengikuti ayunan ombak.

Pusat Data Mandiri Tanpa Listrik Darat
Pergerakan vertikal dari ombak tersebut akan mendorong air ke dalam turbin internal, menghasilkan listrik dalam siklus tertutup (closed loop). Menariknya, perusahaan sama sekali tidak berencana mengalirkan listrik tersebut ke darat.

Sebagai gantinya, setiap nodes membawa tumpukan komputasi (compute stack) sendiri di dalam kapsul yang tersegel rapat. Energi dari ombak langsung memberi tenaga pada prosesor-prosesor tersebut. Setelah komputasi selesai, hasil beban kerja AI dikirimkan ke darat melalui jaringan internet satelit seperti Starlink.

“Salah satu wawasan utama yang kami miliki adalah sangat penting untuk menggunakan listrik di tempat,” ungkap CEO dan salah satu pendiri Panthalassa, Garth Sheldon-Coulson. “Kami tidak akan pernah mentransmisikan listrik kembali ke pantai. Itulah yang membuat kami sangat berbeda dari semua proyek energi laut yang pernah dicoba di masa lalu.”

Desain Tangguh dan Pendingin Alami
Berbeda dengan sistem tenaga laut terdahulu yang rumit dan rentan rusak akibat benturan ombak, struktur nodes buatan Panthalassa dirancang solid tanpa engsel, penutup, atau gearbox luar. Desain ini diklaim memangkas risiko perawatan dan membuatnya lebih mudah diproduksi massal menggunakan pelat baja standar.

Alih-alih membangun fasilitas pendingin raksasa seperti di darat, Panthalassa memanfaatkan lautan di sekitarnya sebagai penyerap panas (thermal sink) alami untuk mendinginkan server. Lingkungan laut yang stabil dinilai tak hanya menjaga suhu tetap terkendali, tetapi juga memperpanjang umur perangkat keras.

Sistem perakitannya pun terbilang unik. Nodes dirakit di pabrik pesisir, ditarik secara horizontal oleh kapal, dan baru ditegakkan saat mencapai laut dalam. Dari sana, mereka bergerak ke laut lepas dengan memanfaatkan bentuk lambung dan dorongan ombak tanpa mengandalkan mesin.

Didukung Tokoh Teknologi Dunia
Suntikan dana segar ini akan digunakan untuk menyelesaikan fasilitas manufaktur percontohan di dekat Portland, Oregon. Proyek ambisius ini turut menarik perhatian sejumlah investor kelas kakap, termasuk Peter Thiel, Marc Benioff (TIME Ventures), dan Max Levchin (SciFi Ventures).

Setelah sukses menguji prototipe awal (Ocean-1, Ocean-2, dan Wavehopper), Panthalassa kini bersiap meluncurkan seri Ocean-3 di Pasifik Utara mulai tahun 2026, dengan target ekspansi komersial pada tahun 2027.

Sheldon-Coulson, yang juga mantan peneliti energi dan AI, meyakini bahwa ombak pada dasarnya adalah bentuk energi matahari yang tersimpan.

“Ombak diciptakan oleh angin, dan angin diciptakan oleh panas dari matahari. Jadi ombak adalah sinar matahari yang terkonsentrasi dua kali lipat, dan mereka terus bergerak bahkan saat angin berhenti. Ombak seperti baterai untuk sinar matahari, dan kita bisa memanfaatkannya 24/7,” pungkasnya, demikian dikutip detikINET dari Financial Times, Rabu (6/5/2026).

Sumber : detik. Foto: Dok. Panthalassa