Sebuah studi Universitas Yale pada 2025 menemukan bahwa semakin banyak orang dewasa muda (berusia 18 hingga 34 tahun) yang mengalami disabilitas kognitif-termasuk masalah memori dan sulit fokus. Angkanya hampir melonjak dua kali lipat, dari 5,1% menjadi 9,7% selama satu dekade.

Para peneliti mengaitkan hal ini dengan “brain rot” atau kerusakan otak: suatu kondisi kelelahan mental akibat paparan konten digital yang sangat cepat namun dangkal.

Perilaku yang terkait dengan brain rot termasuk scrolling terus-menerus serta penggunaan meme berlebihan dalam percakapan sehari-hari.

Psikolog Dr. Julia Kogan memaparkan tanda utama brain rot adalah ketika Anda terlalu sering online sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari.

Misalnya, jika tidak bisa tidur karena terpaku pada ponsel atau mengabaikan hubungan di dunia nyata demi TikTok, Anda mungkin mengalami brain rot.

“Tanda-tanda lainnya termasuk kesulitan untuk melepaskan diri dari ponsel dan ada dorongan untuk terus-menerus memeriksa notifikasi,” katanya, dikutip dari Verywell Mind.

“Mata yang tegang, sakit kepala, atau postur tubuh yang buruk akibat penggunaan ponsel dapat menjadi tanda lain bahwa terlalu banyak waktu dihabiskan online tanpa istirahat.”

Fenomena brain rot juga disoroti Dr Melly Latifah, dosen IPB University dari Divisi Perkembangan Anak, Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia, yang menjelaskan dampak brain rot terhadap anak.

“Anak bisa sulit konsentrasi, sering lupa instruksi sederhana, bicaranya patah-patah, atau kosakatanya menyusut. Secara emosional, mereka bisa tertawa histeris saat online tetapi datar ketika diajak bicara. Ada juga yang marah ketika gadget diambil,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa setiap usia menunjukkan gejala berbeda. “Balita mungkin meniru gerakan absurd yang mereka lihat. Anak usia SD bisa mengalami penurunan nilai drastis. Sementara remaja mulai berkomunikasi dengan bahasa meme,” pungkasnya.

Sumber : CNBC Indonesia