Sebanyak 89 pemuda dari berbagai daerah di Indonesia, diberangkatkan ke Holingol, China. Mereka dikirim untuk mempelajari teknologi pengolahan aluminium sebagai persiapan pengembangan industri hilirisasi di Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP), di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat (Kalbar).
Program pengembangan sumber daya manusia yang diinisiasi PT Dharma Inti Bersama (DIB) itu diproyeksikan untuk menyiapkan tenaga kerja lokal yang nantinya terlibat dalam operasional industri aluminium di kawasan tersebut.
Di balik keberangkatan itu, tersimpan cerita perjuangan para peserta yang harus melewati seleksi ketat hingga pelatihan intensif selama beberapa bulan terakhir.
Salah satu peserta, Yusril Damara, alumnus Politeknik Negeri Pontianak, mengaku keberangkatan ke China menjadi momen penting dalam hidupnya.
Selama empat bulan terakhir, ia mengikuti pelatihan Bahasa Mandarin melalui kerja sama Universitas Tanjungpura dan Sekolah Tinggi Bahasa Harapan Bersama.
“Perjuangan dan usaha selama empat bulan ini akhirnya terbayarkan,” kata Yusril, Minggu (17/5/2026).
Harapan untuk ikut membangun daerah asal Bagi Yusril, kesempatan tersebut bukan hanya soal karier, tetapi juga harapan untuk ikut membangun daerah asalnya.
“Saya ingin membangun Kayong Utara. Saya berharap daerah kami semakin maju dengan adanya smelter ini,” ujar Yusril.
Semangat serupa disampaikan Zainir Oktaviani, sarjana Fisika Murni Fakultas MIPA yang menjadi salah satu peserta perempuan dalam rombongan tersebut.
Sebagai anak pertama di keluarganya, Zainir ingin menjadi inspirasi bagi adik-adiknya. “Dukungan orang tua sejak kecil sampai sekarang menjadi kekuatan terbesar saya,” ujar Zainir.
Ia berharap generasi muda daerah mampu mengambil peran penting dalam pembangunan industri modern di Kalbar. “Saya ingin Kayong Utara berkembang pesat dan menjadi daerah yang maju,” kata Zainir.
Perwakilan manajemen PT Dharma Inti Bersama, Rasnius Pasaribu, mengatakan program tersebut merupakan investasi jangka panjang perusahaan dalam menyiapkan sumber daya manusia lokal yang kompeten di bidang industri aluminium.
Dari 89 pemuda yang diberangkatkan, sebanyak 14 orang merupakan putra daerah, Kabupaten Kayong Utara.
“Teknologi yang dipelajari para peserta di China nantinya akan diterapkan langsung dalam operasional industri hilirisasi aluminium di KIPP,” ujar Rasnius.
Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kayong Utara, A Azahari, menilai pengalaman belajar langsung di China akan membentuk kemampuan teknis sekaligus budaya kerja para peserta.
“China memiliki etos kerja tinggi, disiplin, dan tetap menjunjung adab serta sopan santun. Nilai-nilai positif itu yang harus diserap anak-anak kita,” kata Azahari.
Suasana haru tampak mewarnai prosesi pelepasan peserta. Sejumlah orang tua mendampingi anak-anak mereka hingga menjelang keberangkatan.
Menutup sambutannya, Azahari menyampaikan pesan sederhana kepada para peserta yang akan tinggal jauh dari keluarga selama beberapa bulan ke depan.
“Walaupun nanti berada di negeri orang, jangan pernah lupa menelepon ibu kalian,” ungkap Azahari.
Anggota DPD RI asal Kalbar, Daud Yordan menambahkan, kesempatan belajar dan peluang kerja yang diterima para peserta merupakan kesempatan langka di tengah persaingan kerja saat ini.
“Mereka yang berangkat hari ini punya kesempatan besar untuk kembali dan bekerja sesuai bidang keahlian masing-masing,” ujar Daud.
Daud pun berpesan agar para peserta kembali untuk membangun daerah asal mereka. “Ambil ilmu sebanyak-banyaknya, lalu pulang dan bangun Kalimantan Barat,” pungkas Daud.
Sumber : Kompas. Foto : Sebanyak 89 pemuda dari berbagai daerah di Indonesia diberangkatkan ke Holingol, China, untuk mempelajari teknologi pengolahan aluminium sebagai persiapan pengembangan industri hilirisasi di Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP), di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat (Kalbar).(KOMPAS.com/HENDRA CIPTA)
