Fast Food Indonesia (FAST) per 31 Maret 2026 mengemas laba bersih Rp13,28 miliar. Meroket 136,12 persen dari episode sama tahun lalu boncos Rp36,77 miliar. Oleh sebab itu, laba per saham emiten anak H Isam tersebut menjadi Rp3 dari sebelumnya minus Rp9.
Pendapatan Rp1,42 triliun, surplus 19,33 persen dari periode sama tahun lalu sejumlah Rp1,19 triliun. Beban pokok penjualan Rp598,59 miliar, mengalami pembengkakan dari posisi sama tahun sebelumnya Rp485,5 miliar. Laba kotor terkumpul Rp824,52 miliar, mengalami lonjakan 15,4 persen dari Rp714,45 miliar.
Beban penjualan dan distribusi Rp654,85 miliar, susut dari Rp657,3 miliar. Beban umum dan administrasi Rp141,32 miliar, berkurang signifikan dari Rp167,08 miliar. Beban operasi lain Rp10,13 miliar, turun dari Rp11,39 miliar. Penghasilan operasi lain Rp11,93 miliar, berkurang dari Rp85,35 miliar.
Laba usaha Rp30,14 miliar, melonjak 183,81 persen dari boncos Rp35,96 miliar. Penghasilan keuangan Rp510,43 juta, melejit dari Rp277,79 juta. Pajak final atas penghasilan keuangan Rp102,08 juta, bengkak dari Rp55,55 juta. Beban keuangan Rp22,56 miliar, susut dari Rp26,64 miliar.
Bagian atas laba entitas asosiasi Rp1,6 miliar, melesat dari Rp231,04 juta. Laba periode berjalan Rp12,66 miliar, berbalik dari tekor Rp40,07 miliar. Total ekuitas Rp464,69 miliar, melonjak dari Rp435,85 miliar. Jumlah liabilitas Rp4,72 triliun, bengkak dari Rp4,51 triliun. Total aset Rp5,19 triliun, melejit dari akhir tahun lalu Rp4,94 triliun.
Saham Bangun Tidur
Menyusul kinerja apik itu, sepanjang perdagangan Selasa, 26 Mei 2026, gerak saham pemilik gerai KFC tersebut langsung bangkit dari zona merah. Bertengger di level Rp246 per helai. Itu setelah melejit 10 poin alias 4,24 persen dari perdagangan hari sebelumnya.
Kendati begitu, kalau dikalkulasi dalam 1 bulan terakhir, saham FAST masih berkubang di zona merah. Tepatnya, terkoreksi 56 poin setara dengan 18,54 persen dari periode 28 April 2026 di level Rp302 per eksemplar. Kalau ditarik ke belakang lagi yaitu sejak awal tahun ini alias year to date masih terkapar.
Yaitu, terjungkal 369 poin alias 60 persen dari posisi 2 Januari 2026 di level Rp615 per lembar. Saham FAST dalam tempo 52 Minggu terakhir sempat menyentuh level tertinggi Rp870 per lembar, dan susuri posisi terendah Rp214. Dan, FAST dipersenjatai dengan kapitalisasi pasar Rp1,11 triliun.
Deretan Pemegang Saham FAST
Berdasar data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 30 April 2026, pemegang saham FAST di atas 1 persen meliputi Indolife Pensiontama 106,86 juta helai setara 2,36 persen, Asuransi Central Asia (ACA) 189,16 juta saham atau 4,18 persen, Fidelity Funds 135,35 juta lembar alias 2,99 persen.
Gelael Pratama mengempit 1,86 miliar eksemplar setara dengan 41,18 persen, Windsor Investment Fund Limited 57,02 juta saham alias 1,26 persen, Cyber Express Enterprises Limited 75,87 juta lembar atau 1,68 persen, dan Indoritel Makmur Internasional (DNET) menggenggam 1,69 miliar lembar setara dengan 37,51 persen.
Di sisi lain, jumlah saham free float sebanyak 948,08 juta lembar setara dengan 20,96 persen. Jauh diambang batas regulator dengan ketentuan free float minimum 15 persen. Total jumlah pemegang saham nasabah pemilik SID 10.482 pihak, susut 305 pihak dari sebelumnya 10.787 pihak. Pemilik manfaat akhir FAST Elisabeth Gelael.
Sentuhan Magis Putri H Isam
Tahun lalu, putri H Andi Syamsuddin Arsyad alias H Isam mengeksekusi 35 persen saham Jagonya Ayam Indonesia (JAI), anak usaha FAST.
Putri H Isam yaitu Liana Saputri, memborong saham Jagonya Ayam melalui Shankara Fortuna Nusantara (SFN). Menyusul transaksi itu, Putri H Isam mengempit 35 persen saham Jagonya Ayam via Shankara.
Putri H Isam sebagai beneficial owner mengempit 45 persen saham Shankara. Akuisisi saham Jagonya Ayam oleh Shankara efektif pada 30 Juni 2025. Di mana, Shankara menjala 41.877 saham baru seri A senilai Rp54,44 miliar. Menyusul transaksi itu, FAST tetap menjadi pengendali Jagonya Ayam dengan porsi 55 persen.
Penuntasan transaksi itu, diharap memperkuat struktur pendanaan dalam tahap pembangunan, mendukung pertumbuhan bisnis Jagonya Ayam ke depan, pengembangan jaringan usaha, dan percepatan pelaksanaan proyek-proyek strategis. Jagonya Ayam dipatok beroperasi penuh akhir 2026. Saat ini, Jagonya Ayam tengah membangun integrasi peternakan ayam di Banyuwangi.
Kabar Buruk bagi Investor
Berdasar hasil rapat umum pemegang saham tahunan tahun buku 2025, para pemegang saham FAST setuju tidak membagi dividen. Pasalnya, sepanjang 2025, FAST masih berusaha keluar dari tekanan. Ya, FAST masih menelan rugi berjalan Rp369 miliar, mengalami penyusutan dari Rp789 miliar.
Pendapatan tercatat Rp4,88 triliun, naik dari tahun sebelumnya Rp4,87 triliun. Beban pokok penjualan Rp1,99 triliun,
berkurang tipis dari episode sama tahun sebelumnya Rp2,03 triliun. Rugi usaha Rp312 miliar, lebih baik dari tahun sebelumnya.
Kabar baiknya, FAST berhasil mencatat aset Rp4,9 triliun, meningkat pesat dari tahun sebelumnya Rp3,5 triliun. Liabilitas Rp4,5 triliun, meningkat dari tahun sebelumnya Rp3,4 triliun. Sedang ekuitas tercatat Rp435 miliar, naik dari tahun sebelumnya Rp127 miliar.
Sumber : Emiten News. Foto : Sejumlah gerai KFC menyediakan SPKLU untuk pemilik kendaraan listrik. (Istimewa)
