Harga emas sempat terjun bebas sebelum berbalik menguat pada Kamis. Penguatan terjadi seiring melemahnya dolar Amerika Serikat (AS) dan turunnya harga minyak setelah muncul kabar bahwa AS dan Iran mencapai kesepakatan perpanjangan gencatan senjata.

Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Kamis (28/5/2026) ditutup di posisi US$ 4491,93 per troy ons. Harganya menguat 0,78%.

Namun, harga emas sempat jatuh ke level US$ 4300 pada perdagangan kemarin sekitar pukul 17.00 WIB. Emas baru berbalik arah dan menanjak setelah ada gencatan senjata.

Kenaikan emas kemarin menjadi kabar baik setelah harganya jatuh 2,5% dalam dua hari beruntun sebelumnya.

Harga emas menanjak pada hari ini. Pada Jumat (29/5/2026) pukul 06.31 WIB, harga emas menguat 0,02% ke US$ 4492,86 per troy ons.

AS dan Iran dikabarkan mencapai memorandum of understanding (MoU) untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari, meski Presiden AS Donald Trump masih harus memberikan persetujuan akhir.

Indeks dolar AS turun 0,2% ke 99,02 atay level terendah sejak 5 Mei 2026. Kondisi ini membuat emas yang dihargakan dalam dolar menjadi lebih murah bagi pembeli luar negeri. Harga minyak Brent juga melemah setelah laporan tersebut muncul.

Di sisi lain, data menunjukkan indeks pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) AS naik 3,8% secara tahunan hingga April, sesuai ekspektasi pasar. Secara bulanan, indeks PCE naik 0,4% pada April setelah melonjak 0,7% pada Maret.

Pedagang logam independen Tai Wong mengatakan kombinasi data inflasi AS yang lebih lemah dan kabar pembukaan Selat Hormuz memberi “napas” bagi harga emas.

“Emas tadi (kemarin) pagi sempat terancam turun di bawah rata-rata pergerakan 200 hari, yang dianggap banyak investor sebagai batas penting untuk menjaga tren naik,” ujarnya, dikutip dari Refinitiv.

Kepala strategi komoditas global TD Securities, Bart Melek, mengatakan data PCE membuka peluang bagi The Federal Reserve untuk menahan suku bunga dan tidak kembali memperketat kebijakan moneternya.

Sebelumnya, risalah rapat The Fed pada 28-29 April menunjukkan semakin banyak pejabat yang membuka kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan.

Harga emas sendiri tertekan sejak pecahnya konflik AS-Israel dengan Iran pada akhir Februari akibat kekhawatiran inflasi. Meski dikenal sebagai aset safe haven, emas cenderung kurang menarik saat suku bunga naik karena investor beralih ke aset yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.

Kabar dari China juga ikut menopang emas. Impor bersih emas China melalui Hong Kong melonjak 81,2% pada April dibanding bulan sebelumnya.

Sumber : CNBC Indonesia