Elon Musk dikabarkan mau menambah daftar perusahaan yang ia miliki dengan membeli raksasa chip Intel. Pembelian melalui SpaceX dikabarkan bernilai fantastis sebesar US$1 triliun atau sekitar Rp 17.861 triliun.

Nilai itu terdengar tidak masuk akal. Mengingat kapitalisasi perusahaan hanya US$607 miliar (Rp 10.851 triliun).

Intel juga tengah berjuang untuk bisa kembali berjaya di pasar semikonduktor. Selama beberapa tahun terakhir, perusahaan mengalami penurunan pangsa pasar dan kemunduran di industri.

Laman 247wallst menuliskan akuisisi strategis jarang berdasarkan pendapatan perusahaan masa kini. Namun juga berdasarkan perhitungan untuk masa depan sebuah perusahaan.

Beberapa hal yang bisa dijanjikan intel seperti fasilitas yang sudah ada jadi tidak perlu membangun pabrik baru di AS, pengalaman puluhan tahun, puluhan ribu insinyur semikonduktor, hingga hubungan erat dengan pemerintah AS.

Sementara itu, Musk juga tengah menyiapkan SpaceX yang segera IPO pada 12 Juni mendatang. Perusahaan menargetkan valuasi US$1,75 triliun (Rp 31.285 triliun) dalam IPO yang disebut terbesar dalam sejarah.

Dengan angka tersebut, SpaceX bakal sejajar dengan perusahaan besar lainnya seperti Nvidia, Microsoft, dan Apple.

Kabar lainnya juga menyebutkan Musk mempertimbangkan menggabungkan SpaceX dengan Tesla, dengan potensi nilai lebih dari US$3 triliun (Rp 53.600 triliun). Belum ada proposal merger formal hingga saat ini, namun logika strategis semakin masuk akal.

Tesla membutuhkan daya komputasi besar karena sistem penggerak otonom, sedangkan jaringan satelit Starlink SpaceX bergantung pada optimasi AI dan perangkat keras khusus. xAI tengah membangun pusat data raksasa penuh GPU.

Kebutuhan lainnya adalah kendaraan otonom listrik yang dibutuhkan untuk menjelajah Mars, impian besar Musk lainnya. Semua bisnis itu memiliki satu kebutuhan khusus yakni akses pada chip, membuat pembelian Intel jadi salah satu solusi terbaik saat ini.

Sumber : CNBC Indonesia. Foto: Reuters