Pilihan hidup kadang tidak selalu sejalan dengan keinginan keluarga. Adakalanya karier seseorang tidak disetujui pihak keluarga karena dipandang tidak sepadan dengan buah yang dihasilkan.

Berbeda dengan perjalanan berkesenian Hasan Alwi di ibu kota. Takdir hidup menceburkan dirinya sebagai musisi jalanan di Jakarta.

Lahir di Banjarmasin, Kalimantan Selatan tahun 1959, bakat bermusik Hasan belum terlalu nampak sampai ia memutuskan hijrah dari tanah kelahirannya di Kalimantan. Catatan hidupnya mulai menemukan polanya ketika ia memilih tinggal di Gresik, Jawa Timur, pada tahun 1970-an.

Di Kota Wali itu Hasan remaja sering berkumpul dengan komunitas seniman. Sehari-hari ia mengasah bakat terpendamnya sebagai musisi dengan mangkal di perempatan PEAQ, Kota Gresik.

Mewarisi darah seni dari sang ayah, Alwi Al-Hamid, seorang seniman serbi bisa di grup musik Al-Widat Banjarmasin (era tahun 50-an), Hasan memilih jalan hidup sebagai seniman jalanan.

Mencari tantangan lebih jauh, ia meneruskan petualangan seninya dengan merantau ke ibu kota Jakarta, pada tahun 80-an.

Ia bergaul dan menjalin relasi dengan komunitas seniman antara lain Anto Baret, Mbah Surip, Papa T Bob dan lain-lain.

Beberapa lagu karya ciptaannya dijual putus ke beberapa seniman yang berhasil menembus dunia rekaman. Tidak tercatat pasti berapa jumlah lagu yang ia jual kepada koleganya.

“Almarhum pernah bercerita lagunya dijual putus kepada Papa T Bob. Penyanyi Maribeth juga pernah menyukai karya almarhum, tapi tidak diketahui lagu yang mana,” tutur sang adik Hamid Alwi kepada Monitor Borneo.

Pencapaian Hasan di dunia seni dibuktikan dengan melahirkan dua album rekaman. Rekaman pertama bersama Orkes Blok M (Cari Posisi X Files).

Rekaman kedua dengan menelorkan album Dangdut Exclusive (Ben Pha Yu – Pil Setan) bersama rekannya Alan Itoe, Nur Blewer dan Lia Calista.

Meski bermukim di Jakarta, Hasan tidak melupakan kampung asalnya, terutama sang ibu. Setiap menyelesaikan satu proyek lagu dan mempunyai dana lebih, ia menyempatkan pulang ke Banjarmasin menengok ibunya.

“Almarhum sangat taat kepada ibu. Pulang sekadar minta doa dan restu kepada ibu, setelah itu kembali lagi ke Jakarta,” ujar Hamid.

Salah satu puncak pencapaian Hasan adalah karyanya berjudul “Dangdut Goyang Dunia”.

Lagu itu tercipta tahun 90-an tak lama setelah meledaknya Kopi Dangdut Fahmi Shahab. Kelahiran lagu itu terinspirasi kesuksesan Kopi Dangdut yang dirilis di Jepang. Di Jakarta, karya Hasan kerap ditampilkan oleh rekannya musisi Kelompok Penyanyi Jalanan/Orkes Blok M, Didi Hasyim.

Berikut syair “Dangdut Goyang Dunia” karya Hasan Alwi:

Di kota besar
Di kota kecil
Di kampung kampung

Di desa desa
Di mana mana
lagu dangdut selalu terdengar

Di warung warung
Di kios kios, diskotik pun, tak ketinggalan
Bergoyang goyang
ikut irama lagu dangdut ah memang asyik

Reff:
Banyak orang bilang dangdut music kampungan, ternyata dangdut music gembira
dangdut. music dangdut, semua goyang dangdut, ternyata dangdut music dunia

dut dut dut, goyang dangdut
dut dut dut, mengasyikkan

langit berdendang
bumi bergoyang, bule bule geleng kepala
bergoyang goyang ikut irama lagu dangdut ah memang asyik….

Perjalanan seni Hasan Alwi akhirnya harus terhenti pada tahun 2013, dalam usia 54 tahun, karena sakit.

Meski sudah tiada, karyanya Dangdut Goyang Dunia kini merintis jalan lahir kembali untuk menyapa pencinta musik warga Banua.

“Dalam waktu dekat Dangdut Goyang Dunia karya almarhum Hasan Alwi akan kita rekam di studio dengan satu penyanyi Banua. Tunggu saja rilisnya,” pungkas Hamid. YCM

Foto : Doc. Keping VCD album Dangdut Exclusive (Ben Pha Yu – Pil Setan. Almarhum Hasan Alwi (paling atas)