Para peneliti kembali mengungkap temuan baru keanekaragaman hayati dari Kalimantan. Spesies yang baru diidentifikasi ini adalah terong berduri dari kelompok spiny solanums, atau yang dikenal warga lokal sebagai ‘terong dayak’ (Solanum kalimantanense).
Penemuan ini tidak hanya menambah daftar panjang flora unik Indonesia, tetapi juga memberikan wawasan baru tentang evolusi dan potensi pemanfaatan tanaman lokal.
Yuk kita telusuri lebih dalam tentang temuan menarik ini, seperti dilansir dari Jurnal Taprobanica: A New Spiny Eggplant Species of The Genus Solanum L. (Angiosperms: Solanaceae) from Indonesian Borneo karya Esthi L Agustiani dkk.
Klasifikasi Terong Berduri
Spesies baru ini termasuk dalam keluarga besar Solanaceae, sebuah keluarga botani penting yang mencakup berbagai tanaman pertanian bernilai ekonomi tinggi seperti kentang, tomat, dan tentu saja, terong.
Secara lebih spesifik, taksonominya adalah sebagai berikut:
Kingdom: Plantae
Klad: Tracheophytes, Angiospermae, Eudikotil, Asterid
Ordo: Solanales
Famili: Solanaceae
Genus: Solanum
Subgenus: Leptostemonum (Kelompok terong berduri)
Spesies: Solanum kalimantanense
Penemuan Spesies Baru Solanum
Spesies terong baru ini ditemukan secara eksklusif di wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) dan Kalimantan Selatan (Kalsel). Menariknya, alih-alih ditemukan di pedalaman hutan, tanaman ini justru sebagian besar tumbuh subur di kebun-kebun milik penduduk setempat.
Penemuan ini merupakan hasil dari investigasi lapangan yang dilakukan antara tahun 2022 hingga 2024 oleh para peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Spesimen dikumpulkan dari berbagai lokasi, di antaranya Desa Teluk Muda dan Desa Intu Lingau Kaltim dan Desa Amawang Kiri Muka di Kalsel.
Sering kali spesies ‘baru’ sebenarnya sudah ditemukan beberapa tahun sebelumnya. Penemuan baru dipublikasikan setelah melalui proses identifikasi yang panjang, seperti studi morfologi dan analisis molekuler (DNA) yang cermat.
Apa Bedanya dengan Terong Berduri Lain?
Perbedaan utama antara terong berduri baru dari Kalimantan ini dengan terong berduri lainnya (Solanum lasiocarpum) terletak pada beberapa karakteristik kunci berikut ini:
1. Perbedaan Duri
Pada bagian batang, duri Solanum kalimantanense berukuran sangat kecil, yakni hanya berkisar antara 0,92 hingga 2,39 mm, sangat berbeda dengan duri Solanum lasiocarpum yang ukurannya jauh lebih panjang mencapai 0,5 hingga 1 cm dengan pangkal duri yang lebar.
Pada tangkai bunga (pedicel) dan kelopak bunga (calyx), S. kalimantanense secara konsisten dipenuhi oleh duri. Sebaliknya, tangkai bunga S. lasiocarpum hanya memiliki sedikit duri atau bahkan tidak berduri sama sekali, dan bagian kelopak bunganya sama sekali tidak memiliki duri (unarmed).
2. Karakteristik Daun
Solanum kalimantanense memiliki proporsi bilah daun yang panjangnya hampir sama dengan lebarnya. Ini berbeda dengan daun S. lasiocarpum yang bentuknya lebih memanjang hingga 1,5 kali lipat.
Dari segi tepian dan struktur bawah, daun terong berduri kalimantan memiliki lekukan yang sangat dangkal dipadukan dengan pangkal daun yang asimetris (oblique). Sementara kerabatnya memiliki lekukan dangkal hingga sedang serta berpangkal terpotong (truncate) atau tumpul (obtuse).
Permukaan atas daunnya juga berbeda, di mana S. kalimantanense memiliki tekstur bulu-bulu halus (puberulent) dengan sebaran rambut bintang bertangkai panjang yang hanya sesekali muncul. Sedangkan S. lasiocarpum tertutup rapat dan padat oleh bulu bintang pada permukaan daunnya.
3. Bunga dan Buah
S. kalimantanense memiliki tangkai bunga yang sedikit lebih panjang, yakni sekitar 0,9-1,0 cm, serta kelopak mahkota (corolla) berbentuk bintang berwarna putih yang ukurannya lebih besar (1,9-2,0 x 0,9-1,0 cm). Sedangkan buahnya saat matang memiliki permukaan berbulu halus, tumbuh menggantung, dan memiliki warna kuning-jingga terang.
4. Habitat
Solanum kalimantanense beradaptasi dengan sangat baik di tanah Kalimantan. Tanaman perdu ini mampu tumbuh pada berbagai jenis tanah, termasuk tanah berpasir lempung, tanah berdrainase baik, tanah basa, hingga tanah hitam yang asam.
Mereka dapat hidup dari dataran rendah di ketinggian 9 meter hingga daerah pegunungan mencapai 1.700 meter di atas permukaan laut. Spesies ini bisa bertahan pada kisaran suhu ekstrem antara 10°C hingga 35°C.
Obat Tradisional hingga Ketahanan Pangan
Meskipun belum dibudidayakan secara komersial, spesies terong berduri kalimantan ini memiliki beberapa manfaat penting:
Pengobatan Tradisional: Di wilayah Kecamatan Kenohan, daun serta kuncup buah dari tanaman ini dimanfaatkan secara empiris oleh penduduk sebagai obat “wikat”, yaitu bentuk pengobatan tradisional yang ditujukan untuk mengobati kanker.
Pangan dan Kuliner: Tanaman ini telah dibudidayakan secara komersial di beberapa wilayah Kalimantan. Buahnya lazim dijumpai dijajakan di pasar terapung di Banjarmasin dan diolah oleh penduduk setempat sebagai sayuran pelengkap makanan.
Status Konservasi
Berdasarkan evaluasi awal menggunakan pedoman IUCN Red List, Solanum kalimantanense diusulkan untuk masuk dalam kategori Rentan (Vulnerable / VU).
Klasifikasi ini dipertimbangkan lantaran jangkauan geografisnya yang sangat terbatas, dengan estimasi Area of Occupancy (AOO) hanya sekitar 12 kilometer persegi dan Extent of Occurrence (EOO) sebesar 17.622,35 kilometer persegi.
Di samping itu, data spesies ini masih sangat terbatas karena hanya diobservasi di kurang dari lima lokasi, dan jumlah individu dewasanya diperkirakan kurang dari 50 tanaman.
Meski begitu, fakta bahwa masyarakat lokal telah lama membudidayakan dan memanfaatkannya memberikan harapan besar bagi kelestarian spesies unik dari tanah Borneo ini.
Sumber : detik. Foto : Solanum kalimantanense, spesies terong berduri asal Kalimantan yang punya manfaat jadi obat tradisional. Foto: BRIN
