Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimantan Timur melestarikan ilmu pengobatan tradisional Minyak Waras sebagai warisan pengetahuan melalui peluncuran buku literasi.

“Mendokumentasikan kearifan lokal melalui tulisan merupakan bentuk nyata dari literasi aplikatif,” kata Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kaltim Lisa Hasliana di Samarinda, Rabu (24/6/2026).

Peluncuran buku berjudul Minyak Waras Borneo Kai Ahim tersebut menjadi langkah DPK Kaltim dalam mendokumentasikan serta memperkenalkan kekayaan pengetahuan tradisional.

“Ketika kearifan lokal yang tadinya hanya diwariskan secara lisan berhasil didokumentasikan dalam sebuah buku fisik, di situlah kita berhasil merawat tradisi,” ujarnya.

Ia menjelaskan perpustakaan pada era modern ini tidak lagi sekadar menjadi ruang untuk menyimpan koleksi buku fisik, akan tetapi mengemban peran penting dalam mendokumentasikan serta melakukan diseminasi pengetahuan warisan Nusantara agar tidak punah.

“Dengan membaca, kita mentransfer ilmu lintas generasi, sedangkan dengan menulis, kita tengah mengabadikan peradaban daerah,” kata dia.

Pihaknya optimistis fondasi dari kemajuan suatu wilayah bergantung pada tingginya tingkat literasi dan budaya baca masyarakat.

“Kita ingin terwujud ekosistem di mana masyarakat tidak hanya menjadi penikmat informasi, tetapi juga menjadi pencipta pengetahuan,” katanya.

Seminar budaya dan bedah buku tersebut digelar berkat kolaborasi antara Taman Baca Masyarakat (TBM) Iqro beserta dukungan pihak legislatif.

Melalui kehadiran buku literasi pengobatan tradisional khas, warisan arif leluhur dapat dibaca, dipelajari, serta dibedah keilmuan oleh para generasi penerus bangsa.

“Harapan pemerintah daerah sangat jelas agar upaya edukasi kolektif tersebut mampu memicu lahirnya lebih banyak karya literasi lokal dari putra-putri daerah,” ucap Lisa.

Sumber :Antara. Foto : Peluncuran dan bedah buku berjudul “Minyak Waras Borneo Kai Ahim” di Perpustakaan Kaltim, Samarinda, Rabu (24/6/2026), sebagai upaya melestarikan warisan pengobatan tradisional lewat literasi. (ANTARA/HO-DPK Kaltim)