Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta musim kemarau menyebabkan produksi cabai Hiyung di Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan, turun hingga 40 persen dan membuat harga komoditas unggulan Tapin tersebut melonjak dari Rp40 ribu-Rp50 ribu menjadi Rp125 ribu per kilogram.

Ketua Kelompok Tani Karya Baru Junaidi mengatakan, penurunan produksi terjadi di tengah terbatasnya ketersediaan cabai Hiyung di pasaran akibat dampak musim kemarau dan karhutla.

“Sebelum musim karhutla, produksi cabai Hiyung bisa mencapai 50 kilogram per minggu, tetapi sekarang hanya sekitar 30 kilogram per minggu,” ujarnya di Rantau, Kabupaten Tapin, Selasa.(20/10/2026).

Ia menjelaskan, kenaikan harga cabai Hiyung tidak diikuti peningkatan pendapatan petani secara langsung karena hasil panen justru berkurang akibat kondisi lahan yang terdampak kemarau dan kebakaran.

“Berkurangnya pasokan membuat ketersediaan cabai Hiyung di pasaran semakin terbatas, sehingga harga jual meningkat dibandingkan kondisi sebelum musim karhutla,” ungkapnya.

Junaidi menyebutkan, kebakaran selama musim kemarau telah menghanguskan sekitar 12 hektare lahan dari total 139 hektare lahan cabai Hiyung yang dikelola 11 kelompok tani.

“Penurunan produksi dan berkurangnya luas lahan akibat kebakaran memengaruhi pasokan cabai Hiyung ke pasar apabila kondisi kemarau dan karhutla terus berlangsung,” tambahnya.

Bagi petani, ucap Junaidi, kenaikan harga saat ini belum sepenuhnya menggambarkan kondisi usaha tani yang membaik karena jumlah cabai yang dapat dipanen setiap pekan justru menurun.

Sumber : Antara. Foto : Petani cabai Hiyung saat memanen cabai Hiyung di tengah musim kemarau panjang di Rantau, Kabupaten Tapin, Selasa (20/10/2026). (ANTARA/Muhammad Rastaferian Pasya)