Podcast Sukhro menggelar Refleksi 5 Abad Banjarmasin: Jejak Langkah dan Mahakarya. “Lima Abad Merajut Harapan, Mengukir Gemilang Untuk Banua” di Hotel Royal Jelita, Sabtu (8/8/2026).

Berbagai masalah diungkap ke permukaan mulai dari carut marut penanganan sampah, sungai dan bangunan bernilai sejarah yang diabaikan begitu saja oleh Pemerintah Kota Banjarmasin.

“Kita bicara darurat sampah, kita bicara keunggulan sungai, dengan julukan Kota Seribu Sungai. Tapi kita menutup mata terhadap persoalan sungai di Jalan Veteran,” ujar Frans, praktisi hukum dan pemerhati lingkungan hidup, geram.

Selain bernostalgia tentang kondisi kota di masa lalu, sebagian pembicara yang hadir mencatat kekurangan-kekurangan potret wajah kota yang tidak beranjak sesuai harapan warga.

Banjarmasin di usia ke-500, dinilai laksana kondisi orang tua yang bergerak “galai” (lamban dan tidak bersemangat) dalam menjawab keinginan warga kota.

Penguasa daerah disebut tidak peka dan tanpa kajian terbuka terlebih dulu bertindak menghilangkan bangunan kebudayaan dan bersejarah peninggalan kepala daerah terdahulu seperti monumen ikon kota “Kayuh Baimbai” karya maestro Misbach Thamrin.

Film Dokumenter
Pemutaran Film Dokumenter 500 Tahun Kota Banjarmasin.

Kegiatan Refleksi 5 Abad Banjarmasin dibuka dengan pemutaran film dokumenter tentang Kota Banjarmasin kolaborasi dua praktisi media digital Banua, Fahruadi Handiana (Adi Inspiramovie) dan Supian Suri, yang memadukan sumber data-foto langka kesejarahan-rekayasa teknologi AI. Film tersebut diproduseri oleh Sukhrowardi.

Pembuatan film dokumenter merupakan bagian dari sumbangan pemikiran sebagai warga kota, catatan geliat dinamika kota, rekaman dokumentasi sejarah dan ekonomi perniagaan kota dagang tua yang akan merayakan Hari Jadi ke-500 tahun pada 24 September 2026 mendatang. (AB)